Home Arah STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (XII)
Bookmark and Share
Arah
STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (XII) PDF
Oleh Doug Lorimer   

Mao

Kegagalan di Wuhan

Resolusi pleno ke-8, yang menentukan posisi terhadap masalah revolusi Cina dikirimkan kepada Partai Komunis Cina pada tanggal 1 Juni, 1927, disertai seperangkat instruksi rinci (namun kontradiktif) dari Stalin kepada delegasi Komintern di Wuhan, yang menyerukan kepada Komunis untuk:

1. Sita tanah dari para pemilik tanah, namun jangan atas nama pemerintahan nasionalis, dan tak boleh menyentuh tanah para pejabat militer. Tetapi, seperti yang disampaikan Chen dalam surat terbukanya kepada Partai Komunis Cina, Desember, 1929: “Tak ada satupun kaum borjuis, pemilik tanah……dan tuan tanah di Provinsi Hunan dan Hubei yang bukan saudara, kerabat, atau teman dari para pejabat pada masa itu… Jadi, menyita tanah dengan syarat ‘Jangan sentuh tanah milik pejabat militer’, adalah omong kosong.”

2. Kendalikan aksi petani yang “penuh kecemburuan” melalui asosiasi petani.

3. Singkirkan jendral-jendral yang tidak dapat dipercaya, persenjatai 20.000 Komunis, dan pilih sekitar 50.000 buruh dan petani revolusioner dari provinsi Hunan dan Hubei untuk membentuk kesatuan tentara yang baru, memanfaatkan para pelajar sekolah-pegawai (Kuomintang) sebagai komandannya. Sekali lagi, sebagaimana pengamatan Chen: “Kalau kita bisa mendapat senapan dalam jumlah yang banyak, mengapa kita tidak langsung saja mempersenjatai para buruh dan petani dan mengapa kita masih harus merekrut pasukan baru yang dipersembahkan bagi Kuomintang? Kalau bukan kaum buruh, petani atau sovyet yang kita persenjatai, lantas bagaimana dan dengan siapa kita bisa menghancurkan para jendral yang dikatakan tidak dapat dipercaya itu?”

4. Tempatkan petani dan kelas-pekerja yang baru di dalam Komite Sentral Kuomintang. Menurut Chen, “Bila kita memiliki kekuasaan untuk berunding secara bebas dengan komite lama untuk mereorganisasi Kuomintang, mengapa kita justru tidak mereorganisasi soviet? Mengapa kita malah menyerahkan pimpinan-pimpinan buruh dan petani kepada Koumintang borjuis, yang telah melakukan pembunuhan (massal) buruh dan petani? Dan mengapa kita justru mendekorasi Kuomintang dengan pimpinan-pimpinan kita?

5. Dirikan pengadilan militer revolusioner yang dikepalai oleh orang Kuomintang non-Komunis yang terkemuka untuk mengadili pegawai reaksioner. Tetapi, seperti yang dipertanyakan Chen belakangan: “Bagaimana mungkin seorang pimpinan Kuomintang yang memang sudah reaksioner mengadili pegawai reaksioner dalam sebuah peradilan revolusioner?”

Setelah menerima instruksi-instruksi dari Moscow tersebut, Komite Sentral Partai Komunis menyetujui sebuah resolusi yang menetapkan “kebijakan terhadap petani”, yang menegaskan tekad untuk “menghancurkan semua ekses yang secara langsung bertentangan dengan para pemilik tanah borjuis-kecil dan yang bertentangan dengan militer,” juga memperingatkan petani yang “melanggar batas” tanah keluarga para anggota militer. Pada tanggal 4 Juni, 1927, jurnal mingguan partai mempublikasikan “surat terbuka” yang menyerukan pada Kuomintang agar “tetap mempertahankan kepercayaan pada prinsip-prinsip revolusionernya dan melanjutkan kepemimpinannya terhadap kaum petani dalam perjuangan melawan kekuasaan feudal,” untuk “membubarkan pembelotan” komite [Changsha], menetapkan sebuah pemerintahan provinsial yang syah,” dan “mempersenjatai petani untuk mempertahnkan diri dari pemberontak kontra-revolusioner.” Surat tersebut menyebutkan jenderal-jenderal pemerintahan Wuhan sebagai “Pemimpin revolusioner yang percaya pada demokrasi dan kemerdekaan.” Isu yang sama yang diusung oleh jurnal tersebut yakni tentang “Seruan kepada massa petani dari seluruh negeri.” Setelah mengacu pada capaian revolusi nasional, yang “membebaskan kalian dari penghisapan yang panjang, yang membebaskan kalian dari kesengsaraan tiada tara, dan sebagai realisasi dari slogan “tanah untuk penggarap’,” maka seruan tersebut diakhiri oleh tuntutan yang kontradiktif untuk ‘menguatkan kekuasaan Kuomintang dan pemerintah nasional di Hunan” dan untuk “mendirikan organ pertahanan sipil di desa. [Carr, ibid, hal. 805]

Surat tersebut, seiring dengan instruksi Stalin kepada delegasi Komintern—yang secara ceroboh diperlihatkan oleh Roy kepada Wang Ching-wei (yang secara terbuka didakwa telah melanggar perjanjian Sun-Joffe tahun 1923)—tanpa ragu lagi meyakinkan Kuomintang bahwa Komunis tidak bisa dipercaya. Pada tanggal 8 Juni, Wang dan pimpinan elemen Kiri Kuomintang meninggalkan Wuhan selama tiga hari untuk melakukan pertemuan dengan Jendral Feng Yu-hsiang, yang dianggap sebagai pihak yang netral dalam konflik di antara faksi kanan dan kiri di dalam Kuomintang. Pada pertemuan tersebut, dilaporkan bahwa Wang mengatakan:

Bahwa kaum Komunis meminta kita untuk bergerak bersama massa. Tetapi, di mana massanya? Adakah yang bisa melihat kekuatan besar massa buruh di Shanghai atau petani Guandong dan Hunan? Kekuatan tersebut sebenarnya tidak ada. Chiang Kai-shek berdiri tegak tanpa massa. Bergerak bersama massa berarti berbaris melawan tentara. Lebih baik bagi kita jika berbaris tanpa massa, tetapi berbaris bersama tentara.” [Terkutip dalam Carr, ibid, hal. 807]

Pada tanggal 19 Juni, Feng bertemu dengan Chiang dan anggota lain pemerintahan Nanking. Dua hari kemudian, dia mengirim telegram kepada Wang yang mengatakan bahwa dia meminta penasehat militer soviet pada pemerintahan Wuhan dipulangkan ke negerinya, dan agar persatuan faksi nasionalis diperkuat. Dia kemudian mengeluh bahwa “kapal-kapal dagang, para pedagang, pemilik pabrik, dan pemilik tanah telah ditekan oleh para buruh dan petani.” [Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 809]

Pada tanggal 25 Juni, dalam usaha untuk meredam para pimpinan “Kiri” Kuomintang, komite eksekutif Serikat Buruh Bersatu Seluruh-Cina, melakukan tindakan berdasarkan instruksi dari wakil Stalin yang baru, Solomon Lozovsky dan, tanpa konsultasi melalui konggresnya, atau hanya dalam salah satu sesi kongresnya, mem-veto ancaman pemogokan umum di Wuhan, juga memerintahkan pembubaran detasemen buruh bersenjata, dan emnginstruksikan agar mereka mengembalikan senjatanya pada garnisun local. Tiga hari kemudian, pada saat sesi penyimpulan dalam konggres serikat buruh, saat para delegasi mempersiapkan diri untuk berbaris menuju gedung pemerintahan pusat untuk mengikrarkan janji kesetiaan kepada kekuasaan Kuomintang, Su Chao-cheng, menteri Komunis untuk divisi buruh, tiba dengan berita bahwa seluruh serikat buruh yang ada di kota saat ini telah diduduki tentara dan, Jendral Tang sheng-chi, komandan pasukan Wuhan, telah memerintahkan untuk menyingkirkan semua yang telah diketahui dan dicurigai sebagai Komunis (yang ada dalam ketentaraan).

Pada tanggal 30 Juni, Komite Sentral Partai Komunis Cina memohon dengan hormat kebijakan Komintern agar mempertahankan “aliansi” dengan “Kiri” Kuomintang, yang menggambarkan suatu pernyataan bernada perdamaian, yakni, sebagai berikut:

Kuomintang, sebagai aliansi antara buruh, petani dan kapitalis kecil dalam melawan imperialisme, secara alami sudah seharusnya dianggap sebagai pimpinan revolusi nasional.
Kaum Komunis yang berada pada pos pemerintahan Kuomintang (baik yang berada di pusat maupun daerah) harus mengangap dirinya hanya sebagai anggota Kuomintang…
Organisasi massa-buruh, petani dan lainnya-harus tunduk pada kepemimpinan dan kendali dari yang berwenang dalam Kuomintang; tuntutan gerakan rakyat, buruh, petani, dan lain-lainnya, harus dikonfirmasikan melalui resolusi yang disetujui oleh Konggres Kuomintang atau melalui Komite Eksekutif Pusat, sama halnya juga dengan hukum dan dekrit pemerintah …
Merujuk pada prinsip-prinsip Kuomintang, kaum buruh dan petani harus dipersenjatai, tetapi seluruh kelompok buruh dan petani bersenjata harus dilatih dan di pimpin oleh pemerintah. [Dikutip dalam Guillermaz, ibid, hal. 137-138]

Pada hari yang sama, setelah berita perjanjian antara Feng dan Chiang sampai ke Moscow, Bukharin menulis sebuah artikel di Pravda yang menentang ditariknya kaum Komunis dari pemerintahan Wuhan dengan dalih bahwa hal tersebut sesungguhnya hanyalah keinginan Chiang belaka. Seminggu kemudian, setelah berita tentang pemerintah Wuhan mengambil tindakan keras (pada gerakan serikat buruh) sampai ke Moscow, Zinoviev, Trotsky dan Radek mengirim sebuah surat kepada presidium ECCI, yang meminta pada presidium ECCI agar menyerukan pada Partai Komunis Cina untuk dengan segera keluar dari Kuomintang, mendirikan organisasi sovyet, melancarkan revolusi agrarian dan mengkukuhkan “kediktatoran demokratik revolusioner proletar dan petani.” Surat tersebut disertai dengan kutukan terhadap kebijakan pimpinan Komintern, yang disebutnya sebagai “Sebuah kasus klasik taktik Menshevik dalam revolusi borjuis demokratik.” Seketika itu juga, Radek menyebarkan pamphlet yang berisi serangan terhadap Bukharin, Stalin dan Martynov yang mengeluarkan kebijakan yang “Pada satu sisi menyatakan akan menegakkan hegemoni kaum proletar dalam gerakan nasional namun dalam, pada sisi lain, kenyataan justru meningkatkan hegemoni kaum borjuis.” Jika Komite Sentral Partai Komunis Cina telah berbicara “dalam bahasa vulgar Menshevisme,” Radek menulis, kesalahan ada pada Komintern dan agen-agennya:

Pemimpin Partai Komunis Cina bisa membuktikannya (melalui dokumen) bahwa seluruh rangkaian dokumen yang berisi instruksi untuk menyerah-takluk ditandatangani atas persetujuan dari perwakilan Komintern. (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 813)

Berita yang memalukan dari Wuhan, bersamaan dengan kritikan pihak oposisi atas kebijakan mereka, menggriring Stalin-Bukharin untuk mulai mencari kambing-hitam. Pada tanggal 10 Juli, Bukharin mempublikasikan sebuah artikel panjang di Pravda berjudul Tikungan Tajam Revolusi Cina, yang menyatakan bahwa kaum Komunis harus keluar dari pemerintahan Wuhan, karena “peran revolusionernya belum selesai,” namun tetap bertahan di Kuomintang. Pimpinan Partai Komunis Cina (tak ada satupun nama yang disebut) dituduh oleh Bukharin sebagai “dengan sengaja mensabotase keputusan-keputusan Komintern.” (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 814)

Empat hari kemudian, sebuah pernyataan dikeluarkan atas nama ECCI yang, setelah menyatakan bahwa plenum ECCI pada bulan Mei sebagai “upaya untuk menunjukkan garis yang tepat untuk Partai Komunis Cina,” menegaskan:

Kontradiksi kelas telah menjadi semakin akut. Gerakan massa kaum proletar Cina dan gerakan massa petani-agraria telah mengambil dimensi yang lebih luas… Para Jendral dan korps pegawai secara terbuka bergerak mendukung kontra-revolusi serta mendeklarasikan diri mereka sebagai musuh kaum petani… Jendral Tang Sheng-chi, mengkomandoi angkatan bersenjata, melecehkan kaum petani, mengeksekusi Komunis, dan mengeluarkan mereka dari ketentaraan…

Dukungan terhadap ekspedisi utara secara keseluruhan benar selama hal itu memberikan tempat bagi gerakan revolusioner massa. Dukungan untuk Wuhan secara keseluruhan benar selama hal itu berarti melakukan oposisi terhadap Chiang Kai-shek dan Nanking. Tetapi taktik-taktik blok tersebut menjadi (secara radikal) salah sejak saat pemerintah Wuhan menyerah pada musuh-musuh revolusi…

Pada tahap tertentu revolusi, dukungan kaum Komunis terhadap pemerintah Wuhan memang dibutuhkan tetapi, jika saat ini dukungan tersebut tetap diberikan, maka akan menjadi fatal bagi Partai Komunis Cina karena hanya akan membawa mereka pada kebingungan oportunisme. Meskipun mendapatkan saran dari Komintern, namun pemimpin Kuomintang faktanya bukan saja gagal dalam mendukung revolusi agrarian, tapi juga bahkan memberi kebebasan penuh bagi musuh-musuhnya untuk bertindak…

Pemimpin Partai Komunis Cina saat ini telah membuat kesalahan politik yang sangat besar… Bukannya memproklamirkan revolusi agraria, (Partai Komunis Cina) justru melakukan sejumlah tindakan yang tampaknya justru menjadi penghambat… Masalah lebih lanjut adalah: Politbiro Komite Sentral Partai Komunis Cina “menyetujui” untuk melucuti senjata kaum buruh!... Lebih dari sekali, Komintern secara diam-diam memberikan instruksi yang tajam dalam mengkritisi kepemimpinan Partai Komunis Cina… [Degras, ibid, hal. 394-395]

Seterusnya, resolusi tersebut memberikan instruksi pada Komunis Cina untuk “secara demonstratif keluar dari pemerintahan Wuhan.” Namun, mereka “tidak seharusnya keluar Kuomintang.” Mereka “harus tetap bertahan di dalamnya... dan menyiapkan konggres Kuomintang.”

Pada tanggal 15 Juli, 1927, Chen mengundurkan diri sebagai Sekretaris Jendral Partai Komunis Cina, serta menyatakan: “Pada satu sisi, Komitern mengharap kita mengusung kebijakan kita sendiri namun, pada sisi lain yang lain, tak mengizinkan kita menarik diri dari Kuomintang. Benar-benar tidak ada jalan keluar, dan aku tidak bisa melanjutkan kerjaku.”

Pada hari yang sama, Komite Urusan Politik Kuomintang di Wuhan memerintahkan pembersihan seluruh Komunis dari Kuomintang, dan melancarkan kampanye tentang penangkapan serta eksekusi sampai ke akar-akarnya. Pada awal Agustus, hanya tinggal sekitar 3.500 orang Komunis yang ada di Wuhan.
Setelah lewat beberapa bulan, elemen kiri pemerintah Kuomintang di Wuhan terpecah-pecah, dan hampir sebagian besar pimpinannya mengakomodasikan diri mereka kepada pemerintah Chiang Kai-shek di Nanking. Penyatuan kembali Pemerintah nasionalis, meskipun tanpa partisipasi Wang Ching-wei (dia pergi ke Eropa), di proklamirkan di Nanking pada tanggal 1 September, 1927. Dua bulan kemudian, setelah kembali dari kunjungan ke Jepang, Chiang Kai-shek secara resmi menduduki kembali posisi sebagai kepala pemerintah dan komandan yang mengepalai pemerintah Nasionalis bersatu serta Kuomintang bersatu dan, secara tersebunyi, mendapat pengakuan dari kekuatan imperialis, dia memperluas kekuasaannya atas sebagian besar Cina.

 

Catatan KPRM-PRD

Asal-usul Krisis Ekonomi, Politik, dan Budaya Indonesia.

A. Kolonialisme 350 tahun: Warisan kolonialisme pada Indonesia Merdeka.
B. Kekalahan kubu “sosialisme ala Indonesia” (kubu mobilisasi massa buruh-tani) pada tahun 1965 (yang mencari jalan kerakyatan untuk membangun Indonesia yang tidak tergantung pada imperialis) sehingga memungkinkan (i) pendirian rejim Orde Baru; dan (ii) ekonomi kapitalis yang tak berindustri; serta terutama (iii) penghancuran capaian-capaian revolusi nasional demokratik Indonesia selama 1900-1965 di atas kekalahan kubu sosialis pada tahun 1965 (rakyat harus belajar sejarah Orde Baru). Dengan kata lain, merupakan kemenangan (a) kediktatoran politik elit terhadap demokrasi mobilisasi massa dan (b) neo-kolonialisme.
C. Neo-liberalisme : Ketidakmampuan rejim politik elit ataupun ekonomi neo-kolonial membela rakyat dan negeri dari serangan globalisasi neo-liberalisme—yang merupakan bentuk ganas yang paling baru neo-kolonialisme—dan krisis kapitalisme internasional—yang kepentingannya memperbesar keuntungan dari investasi-investasinya, sehingga membutuhkan peningkatan pemerasan.

Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati, dan siapa musuh-musuhnya?

Secara historis harus diketahui:
A. Kekuatan sosial (kekuatan kelas) yang bergerak dari masa ke masa. Peranan pemuda, intelektual muda, pedagang miskin, buruh dan tani dalam perlawanan terhadap kolonialisme sampai tahun 1949; terhadap pembangunan gerakan “sosialisme ala Indonesia” periode 1949-65; dan dalam perlawanan terhadap Orde Baru dalam tahap-tahapnya.
B. Sejarah siapa yang mengorganisir dan memperjuangkan ide (a) aksi massa dan (b) sosialisme ala Indonesia dalam semua periode tersebut, yang juga harus menggambarkan figur dan ide-idenya, serta juga organisasi politik yang berkembang.
C. Situasi sekarang.
Secara historis harus dijelaskan:
A. Kekuatan sosial (kelas) mana yang berkepentingan dan yang mampu melawan (proletar dan mahasiswa, dengan menjelaskan kedudukan khusus dari massa mayoritas,yakni massa semi-proletar dan burjuis kecil yang melarat dan tertindas—kaum miskin kota/Marhaen desa dan kota).
B. Siapa musuh rakyat dalam negeri dan mengapa: sisa-sisa Orde Baru, militer, reformis gadungan, nasionalis gadungan, yang semuanya berdiri di atas kepentingan kelas kapitalis dalam negeri dengan semua konflik-konfliknya. Siapa musah luar negeri: imperialis, pemerintah-pemrintah imperialis, lembaga finansial internasional, perusahaan MNC dan bank-bank internasional.
C. Siapa sekutu strategis dalam dan luar negeri, baik secara kelas maupun organisasi. Dalam menjelaskan aspek organisasi dalam negeri harus disertai dengan penjelasan yang teliti, peka, rendah hati tapi ilmiah terhadap situasi fragementasi kepeloporan. Sekutu strategis adalah calon mitra persatuan.
D. Siapa sekutu taktis: ini berubah dari waktu ke waktu, bisa kekuatan sosial (kelas atau suatu bagian dari sebuah kelas), bisa individu, bisa organisasi.