Home Arah STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (XI)
Bookmark and Share
Arah
STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (XI) PDF
Oleh Doug Lorimer   

Mao

Stalin menghidupkan kembali argumen lama

Untuk memperkuat argumennya dalam menentang seruan untuk membangun sovyet di Cina, Stalin melemparkan bantahan lebih lanjut:

…Bila terdapat soviet perwakilan buruh, kaum buruh… akan berkata pada kaum Komunis (dan mereka tentu saja benar): Jika kami memiliki sovyet, dan sovyet adalah organ kekuasaan, mengapa tidak, dalam beberapa hal, merambah-mengusik posisi kaum borjuis dan mengambil manfaat (dalam hal kepeimpinan gerakan) dari kaum borjuis, “sedikit saja”? Kaum Komunis hanya akan menjadi pembual saja jika mereka tidak terlibat dalam perjuangan tersebut dan tidak mengambil manfaat (mengambil alih kepemimpinan) dari kaum borjuis, apalagi bila terdapat soviet perwakilan buruh dan tani. Tetapi, kemudian muncul satu pertanyaan: dapatkah dan haruskah cara tersebut diterima saat ini, dalam tahap revolusi sekarang ini? [Stalin, ibid, hal. 718]

Argumen Stalin tidak sepenuhnya orsinil. Argumen tersebut sebenarnya telah dimunculkan oleh Martynov…..untuk menentang Lenin pada tahun 1905.

Selama pemberontakan revolusi massa di Russia pada tahun 1905, Bolsheviks memimpin kaum buruh dalam suatu perjuangan yang teguh untuk menggulingkan rejim T’sar, menggantinya dengan sebuah “pemerintah revolusioner sementara” berdasarkan suatu aliansi antara buruh petani, yang akan didorong terus untuk menuntaskan revolusi demokrasi- borjuis. Pemerintah revolusioner sementara semacam itu merupakan landasan bagi dikukuhkannya “kediktatoran demokratik revolusioner proletar dan petani”. Menjelang akhir tahun 1905, ketika sovyet mulai didirikan, Lenin berpendapat bahwa organisasi massa perjuangan popular tersebut harus menjadi organ revolusioner kekuasaan yang kemudian akan membentuk pemerintah revolusioner sementara.

Martynov, saat membela pandangan Menshevik, menyatakan bahwa—karena revolusi ini adalah revolusi demokrasi-borjuis—revolusi

ini seharusnya dipimpin oleh, dan, memberikan kekuasaan ke tangan borjuis demokratik-liberal, dan ini bertentangan dengan pandangan Bolshevik yang menyatakan bahwa kaum Marxis (yang pada masa itu menyebutnya sebagai “Sosial-Demokrat”) harus berupaya untuk mengambil kepemimpinan dalam revolusi borjuis. Berikut adalah bagaimana Lenin meringkas argumen Martynov:

Martynov tampaknya berusaha menggiring konsep Sosial-Demokratik revolusioner kearah absurditas; dia menakut-nakuti kaum social-demokrat dengan mengatakan bahwa bila kerja-kerja kita berhasil mengorganisir revolusi, dengan asumsi bahwa partai kita lah memimpin kebangkitan kekuatan bersenjata, maka kita harus berpartisipasi dalam pemerintah revolusioner sementara…

Dengan berpartisipasi dalam pemeritahan sementara, kita dijanjikan bahwa Sosial-Demokrasi akan menggenggam kekuasaan di tangannya; namun, bila partai kaum proletar, Sosial-Demokrasi, tidak bisa memegang kekuasaan, maka harus ada upaya… untuk mewujudkan revolusi sosialis. Upaya semacam itulah, pada saat ini, tak terelakan lagi, akan membawa kita pada kepiluan, menodai diri sendiri, dan akan memberikan kendali ke tangan kaum reaksioner [Lenin, The Revolutionary Democratic Dictatorship of the Proletariat and the Peasantry, Collected Works (Moscow, 1962), hal. 294]

Tanggapan Lenin terhadap argumen Martynov adalah: Martynov sebenarnya sedang berlaku sebagai “idola spontanitas”, dengan menganggap bahwa kaum buruh Russia akan dengan mudah melupakan bahwa, dalam rangka untuk mengambil dan memegang kekuasaan, mereka harus bisa merangkul ke sisi mereka sekutu utamanya, atau berlaku “sebagai organisator bagi aliansi dengan kalangan kaum borjuis kecil dan kaum petani, yang kebutuhan sebenarnya adalah menuntut implementasi program minimum kita (misalnya, pemenuhan revolusi demokrasi-borjuis)”. Namun, konsekwensinya, ada pendapat yang tidak masuk akal: bahwa kita “harus menahan diri, harus peduli dengan transisi yang terlalu cepat dalam mewujudkan program maksimum kita (yakni, revolusi sosialis, yang akan mengambil alih hak milik kapitalis).” (Lenin, ibid, hal. 294-295]

Argumen Stalin untuk menentang adanya kebutuhan untuk mendirikan sovyet buruh dan tani dalam revolusi demokrasi-nasional di Cina hanya sekadar mengulang bantahan Martynov terhadap Lenin pada tahun 1905. Dengan memaksakan kebijakan Menshevik atas kaum Komunis di Cina, Stalin, tak bisa dibanath lagi, sedang berupaya untuk membangkitkan kembali argumen Menshevik demi membenarkan kebijakannya dan untuk untuk melawan lawannya, yakni kaum Leninis.

Dalam pidato keduanya pada plenum ECCI ke-8, Trotsky membuat tanggapan terhadap Stalin, sebagai berikut:

Kita semua sependapat bahwa revolusi Cina sedang terjadi dan akan terus berlanjut. Itu sebabnya pertanyaan utamanya adalah bukan pada apakah Oposisi (di Partai Komunis Uni-Sovyet/PKUS) akan memberikan peringatan, dan kapan, serta dimana peringatan itu dilakukan (saya tegaskan, PKUS memang sudah diperingatkan, dan akan saya buktikan sendiri, nanti); pertanyaannya adalah… apa yang harus dilakukan sejak sekarang untuk menarik revolusi keluar dari kekacauan karena dibimbing oleh kebijakan yang salah, dan meletakkanya pada jalan yang benar. Aku ingin, dalam beberapa patah kata, mengungkapkan inti pertanyaannya dan menunjukkan perbedaan yang tak terdamaikan antara posisi kami dengan Stalin

Stalin, sekali lagi, menyatakan bahwa dirinya menentang soviet perwakilan buruh dan petani dengan argumen bahwa Kuomintang dan pemerintah Wuhan merupakan alat dan instrumen yang sudah cukup memadai bagi revolusi agraria. Dengan demikian Stalin menganggap, dan menginginkan (Komunis) Internasional juga menganggap, bahwa tanggungjawab terhadap kebijjakan Kuominang dan pemerintahan di Wuhan, seperti asumsi yang ia ulang-ulang, adalah tanggungjawab “pemerintah nasional” Chiang Kai-shek (khususnya ia nyatakan dalam pidatonya pada tanggal 5 April, stenogram pidato tersebut, tentu saja, disembunyikan dari kalangan internasional).

Kami samasekali tak memiliki persamaan dengan kebijakan tersebut. Kami tak ingin punya anggapan seperti itu bahkan senadainyapun tanggung jawabnya ada pada pemerintah Wuhan dan kepemimpinan Kuomintang, dan kami mendesakkan saran kepada Komintern untuk menolak tanggungjawab tersebut. Kami katakan tanpa tedeng aling-aling pada kaum petani Cina: Bahwa pemimpin Kuomintang Kiri, seperti Wang Ching-wei dan teman-temannya, pasti akan mengkhianati kalian jika kalian mengikuti perintah Wuhan dan, akibatnya, kalian malah tak akan membentuk soviet sendiri yang independen. Revolusi agrarian merupakan hal yang sangat penting. Politikus tipe Wang Ching-wei, sedang berada dirundung kesulitan, dan akan lebih memilih bersatu dengan Chiang Kai-shek untuk melawan buruh dan petani. Di bawah kondisi demikian, dua orang Komunis dalam pemerintahan borjuis hanya akan menjadi sandera yang lumpuh, yang hanya menjadi etalasi/kedok demokrasi bagi persiapan melancarkan pukulan baru terhadap massa pekerja.

Kami berkata pada kaum buruh Cina: Kaum petani tak akan berhasil melakukan revolusi agraria jika mereka membiarkan dirinya dipimpin oleh borjuis-kecil radikal dan bukannya oleh kalian, proletar revolusioner. Oleh karena itu, bangunlah soviet buruh dan bergabunglah dengan soviet petani, persenjatai dirimu melalui soviet, tembak saja jendral yang tidak mengakui soviet, tembak saja para borjuis liberal dan birokrat yang mengorganisir pemberontakan untuk menentang soviet…

Kalian, kaum proletar Cina yang maju, akan menjadi pengkhianat bagi kelas kalian sendiri dan bagi misi sejarahnya, bila kalian percaya bahwa organisasi yang diisi oleh pimpinan-pimpinan borjuis-kecil, yang semangatnya cenderung komprominya, yang sekadar beranggotakan tak kurang dari 250.000 orang (lihat laporan Tan Ping-shan), memiliki kemampuan untuk menggantikan soviet buruh, petani dan tentara dalam memimpin jutaan hingga lebih dari jutaan…

Kami akan mengatakan pada Komunis Cina: Program dari kamrad Ch’en Tu-hsiu, yakni menunda ‘reorganisasi” rejim (Wuhan) dan pengambilalihan tanah dari tuan tanah besar hingga bahaya perang sudah dapat dihindari, merupakan jalan yang paling pasti dan tercepat untuk menuju pada kehancuran. Bahaya perang adalah bahaya kelas. Perang kelas hanya bisa diakhiri bila tuan tanah besar dihancurkan, bila agen imperialisme dan Chiang Kai-shek ditumpas dan, hal itu, harus dilakukan bila soviet didirikan. Lebih tepatnya, dengan seperti itu, maka kita sedang melakukan perjuangan revolusi agraria, revolusi rakyat, revolusi buruh dan tani, yakni, revolusi nasional yang sejati (dalam makna Leninis, bukan dalam makna Martynovis). (Trotsky, Second Speech on the Chinese Question, ibid, hal. 234-235)

 

 

Catatan KPRM-PRD

Asal-usul Krisis Ekonomi, Politik, dan Budaya Indonesia.

A. Kolonialisme 350 tahun: Warisan kolonialisme pada Indonesia Merdeka.
B. Kekalahan kubu “sosialisme ala Indonesia” (kubu mobilisasi massa buruh-tani) pada tahun 1965 (yang mencari jalan kerakyatan untuk membangun Indonesia yang tidak tergantung pada imperialis) sehingga memungkinkan (i) pendirian rejim Orde Baru; dan (ii) ekonomi kapitalis yang tak berindustri; serta terutama (iii) penghancuran capaian-capaian revolusi nasional demokratik Indonesia selama 1900-1965 di atas kekalahan kubu sosialis pada tahun 1965 (rakyat harus belajar sejarah Orde Baru). Dengan kata lain, merupakan kemenangan (a) kediktatoran politik elit terhadap demokrasi mobilisasi massa dan (b) neo-kolonialisme.
C. Neo-liberalisme : Ketidakmampuan rejim politik elit ataupun ekonomi neo-kolonial membela rakyat dan negeri dari serangan globalisasi neo-liberalisme—yang merupakan bentuk ganas yang paling baru neo-kolonialisme—dan krisis kapitalisme internasional—yang kepentingannya memperbesar keuntungan dari investasi-investasinya, sehingga membutuhkan peningkatan pemerasan.

Siapa yang berjuang mati-matian, siapa yang berjuang setengah hati, dan siapa musuh-musuhnya?

Secara historis harus diketahui:
A. Kekuatan sosial (kekuatan kelas) yang bergerak dari masa ke masa. Peranan pemuda, intelektual muda, pedagang miskin, buruh dan tani dalam perlawanan terhadap kolonialisme sampai tahun 1949; terhadap pembangunan gerakan “sosialisme ala Indonesia” periode 1949-65; dan dalam perlawanan terhadap Orde Baru dalam tahap-tahapnya.
B. Sejarah siapa yang mengorganisir dan memperjuangkan ide (a) aksi massa dan (b) sosialisme ala Indonesia dalam semua periode tersebut, yang juga harus menggambarkan figur dan ide-idenya, serta juga organisasi politik yang berkembang.
C. Situasi sekarang.
Secara historis harus dijelaskan:
A. Kekuatan sosial (kelas) mana yang berkepentingan dan yang mampu melawan (proletar dan mahasiswa, dengan menjelaskan kedudukan khusus dari massa mayoritas,yakni massa semi-proletar dan burjuis kecil yang melarat dan tertindas—kaum miskin kota/Marhaen desa dan kota).
B. Siapa musuh rakyat dalam negeri dan mengapa: sisa-sisa Orde Baru, militer, reformis gadungan, nasionalis gadungan, yang semuanya berdiri di atas kepentingan kelas kapitalis dalam negeri dengan semua konflik-konfliknya. Siapa musah luar negeri: imperialis, pemerintah-pemrintah imperialis, lembaga finansial internasional, perusahaan MNC dan bank-bank internasional.
C. Siapa sekutu strategis dalam dan luar negeri, baik secara kelas maupun organisasi. Dalam menjelaskan aspek organisasi dalam negeri harus disertai dengan penjelasan yang teliti, peka, rendah hati tapi ilmiah terhadap situasi fragementasi kepeloporan. Sekutu strategis adalah calon mitra persatuan.
D. Siapa sekutu taktis: ini berubah dari waktu ke waktu, bisa kekuatan sosial (kelas atau suatu bagian dari sebuah kelas), bisa individu, bisa organisasi.