|
SBY-Budiono Gagal Sejahterakan Rakyat, Ganti Rejim, Ganti Sistem! |
|
|
|
|
Oleh Dian Septi Trisnanti*
|
|
Jumat, 29 Januari 2010 02:23 |
|
(28/1/10) Hari ini, tepat lima tahun seratus hari SBY berkuasa, ribuan aksi massa dari berbagai front aksi mengepung Isatana dan gedung MPR/DPR menyatakan kekecewaanya terhadap SBY-BD. Salah satu aksi massa yang tergabung dalam Front Oposisi Persatuan Rakyat Indonesia yang disingkat dengan FOR Indonesia menyatakan SBY-Budiono gagal sejahterakan rakyat dan harus digantikan. Tak hanya digantikan rejimnya namun juga sistemnya dengan sistem baru, yakni Sosialisme. |
|
Selanjutnya...
|
|
Terkait program 100 hari - Gerakan Prodem Sumut Nilai SBY-Boediono Gagal |
|
|
|
|
Oleh Global Medan
|
|
Jumat, 29 Januari 2010 02:19 |
|
Global. 27 january 2010 10:00 Gerakan Prodemokrasi Sumatera Utara menilai pemerintahan SBY- Boediono beserta elite politik busuk gagal melaksanakan amanat penderitaan rakyat Indonesia. "Kita minta SBY-Boediono turun dari jabatannya," kata Koordinator Ligitasi PBHI Sumut Maruli M Purba di sela konferensi pers Gerakan Prodemokrasi Sumatera Utara, mengenai aksi yang akan dilakukan Kamis (28/1), yang diikuti 34 elemen gerakan mahasiswa dan kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) Sumatera Utara di Sekretariat PBHI Sumut Jalan Sawi Medan Selasa (26/1). Ke-34 elemen gerakan mahasiswa dan LSM itu PBHI Sumut, KPS, Bakumsu, Walhi Sumut, Kontras Sumut, KKSP, Bitra Indonesia, Kotib, SMI, SBMI, SBBSU, GRI, Rumah Politik Andalas, KKP HAM 65, Pergerakan Indonesia, PPRM, Suluh Muda Indonesia, SPI- Sumut, FPTR, KP- PPBI, YPRP, Jarak Perempuan Sumut, Hapsari, SSRC Sumut, SMI Cabang Medan, FMN, Barsdem, Gemaprodem, Barani, KDAS, Rumah musik, LMND, PRM, PMKRI Cab. Medan. |
|
Selanjutnya...
|
|
Ada Babi Dalam Unjukrasa di Bundaran UGM |
|
|
|
|
Oleh KR Jogja
|
|
Jumat, 29 Januari 2010 02:17 |
|
Kamis, 28 Januari 2010 11:04:00 YOGYA (KRjogja.com) - Puluhan massa yang tergabung di dalam Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) melakukan unjuk rasa di sekitar bundaran UGM. Massa mengusung replika dua ekor babi. Babi yang berwarna hijau loreng dibawahnya diletakkan foto Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan babi yang berwarna hitam dan mengenakan topi Paman Sam ditaruh foto Wakil Presiden Boediono. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Rezim Kapitalis SBY – Boediono, GAGAL Mensejahterakan dan Mendemokratiskan Rakyat |
|
|
|
|
Oleh KPRM PRD
|
|
Jumat, 29 Januari 2010 02:13 |
|
KOMITE POLITIK RAKYAT MISKIN – PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK (KPRM – PRD)
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
;
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya
m; www.kprm-prd.org Ayo Rakyat Bersatu, Turunkan Rezim SBY-Boediono dan Elit-ELit Politik Busuk! Ganti dengan Pemerintahan Persatuan Rakyat Miskin! Salam Pembebasan! Hari ini, 28 Januari 2009, adalah 100 hari kekuasaan SBY-Boediono. Tapi sesungguhnya rezim SBY-Boediono bukanlah kekuasaan yang baru lahir, atau baru berumur 100 hari. Kekuasaan SBY-Boediono sudah berjalan 5 tahun yang lalu, sehingga hari ini tepatnya adalah 5 tahun 100 hari kekuasaan SBY-Boediono. Atau bahkan, kekuasaan hari ini hanyalah episode lanjutan dari kekuasaan sebelumnya paska reformasi. Kekuasaan yang memiliki karakter serupa: Agen Penjajahan Asing!
|
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
Indonesia, Bangsa Penjual Sumber Daya dan Bangsa Konsumtif |
|
|
|
|
Oleh Paulus Suryanta Ginting*
|
|
Rabu, 27 Januari 2010 21:08 |
|
Krisis Kapitalisme pada akhir 70-an dan 80-an telah mendorong ekonom-ekonom borjuis seperti Milton Friedman, F. Von Hayek untuk merumuskan obat mujarab baru, suatu modifikasi yang lebih jitu dari konsep ekonomi Adam Smith, itulah yang kita kenal selama ini sebagai Neoliberalisme. Konsep Jalan tengah; sosial demokrat kanan; keynesianisme; welfare state, kesepakatan-kesepakatan Breeton Woods harus diperbaharui karena dianggap sudah usang; usang karena konsep tersebut berakhir pula dengan krisis, dan tidak bisa lagi berwatak progresif bagi penumpukan kapital. |
|
LAST_UPDATED2 |
|
Selanjutnya...
|
|
ADA ALTERNATIF LAIN (DILUAR SISTEM KAPITALISME DAN PERDAGANGAN BEBAS ALA KAPITALIS) |
|
|
|
|
Oleh Budi Wardoyo*
|
|
Jumat, 29 Januari 2010 02:07 |
|
Pengantar Sebagai kelanjutan dari kesepakatan perdagangan bebas 10 negara-negara ASEAN dengan CHINA yang telah ditandatangani pada tanggal 4 november 2002 di Phnom Phen-Kamboja- yang secara bertahap akan menurunkan bea masuk—hingga 0 %--semua barang dan jasa yang beredar di Kawasan ASEAN dan CHINA akan dibebaskan bea masuk, maka pada tanggal 1 januari 2010, sebanyak 7.881 pos baru akan dibebaskan bea masuknya. Sebelumnya, baik sesama negara ASEAN—melalui AEC (ASEAN Economic Community) yang memayungi semua perjanjian perdagangan bebas ASEAN, dimana di dalamnya ada AFTA yang sekarang menjadi ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services)—maupun ACFTA (Asean China Free Trade Agreement), pos bea masuk yang dibebaskan jauh lebih banyak, bahkan dengan tambahan 7.881 pos baru yang dibebaskan, total pos tariff yang dibebaskan menjadi 54.457 (lima puluh empat ribu empat ratus lima puluh tujuh) atau 99,11 persen dari arus barang dan jasa di ASEAN. |
|
Selanjutnya...
|
|