Home Stance Bersekutu Dengan Golkar, Militer & Reformis Gadungan = Musuh Rakyat
Bookmark and Share
Stance
Bersekutu Dengan Golkar, Militer & Reformis Gadungan = Musuh Rakyat PDF
Written by KPRM-PRD   
There are no translations available.

Ayo Tinggalkan Dita Indah Sari dan Elit Papernas
Jalankan Politik Gerakan Non Kooperasi dan Non Kooptasi!

Dian Septi Trisnanti*

‘Siasat propaganda’ dalam taktik intervensi pemilu jelas BOHONG BESAR. Dita, Jabo, Dominggus dan Pimpinan Papernas yang lain telah bohong dan menipu bukan saja kepada buruh dan rakyat Indonesia, tapi juga bohong (bahkan) kepada anggota Papernas sendiri (termasuk di dalamnya adalah anggota FNPBI, SRMI, LMND, PRD, dan STN). Selalu dinyatakan kepada internal Papernas (sejak masuk PBR hingga sekarang bersama Golkar dan Hanura dukung Jusuf Kala-Wiranto), bahwa semua hanyalah SIASAT untuk PROPAGANDA demi kepentingan gerakan dan rakyat.

Teori dikeluarkan, alasan-alasan hebat disebutkan, sering dengan nada keras agar tidak diprotes (yang menolak disebut intel), untuk anggota Papernas dan ormas-ormas sepakat, sepikiran, dan kemudian menjalankan sepenuh tenaga keputusan pimpinan tersebut. Padahal pada nyatanya, SIASAT itu BUKAN cara gerakan mengembangkan perjuangan. ‘Siasat Propaganda’ Papernas itu palsu dan anti gerakan, tidak lebih SERUPA dengan siasat pengusaha/borjuasi yang menyatakan bangkrut demi menolak bayar pesangon buruh yang di-PHK sepihak. Terhadap siasat Papernas atau siasat pengusaha seperti itu, jangan pernah dicari logika untuk menemukan alasan adanya keuntungan buruh dan rakyat, sebab memang tidak pernah ada!

Biar terang bagi anggota Papernas dan ormas-ormasnya, juga untuk pelajaran bagi semua kaum gerakan yang setia di gerakan, kita perjelas politik pro elit dan anti gerakan rakyat dari ‘siasat propaganda’ ala Papernas. Namun sebelumnya, kita harus siap jika bagian-bagian siasat tersebut terlihat tidak konsisten dan saling bertentangan, karena mereka bukanlah kaum oportunis yang professional (walaupun memiliki pembela-pembela pemberani dan tanpa malu, yaitu mereka yang: karena tidak tahu kebusukan siasat tersebut, atau sangat tahu tapi sudah menjadi bagian yang busuk).

Masuk PBR: Alasan Demi Gerakan sebagai Siasat Menghancurkan Gerakan

Paling utama sebagai alasan ketika masuk partai busuk anti rakyat bernama PBR adalah agar bisa dengan mudah menembus Pemilu Legislatif 2009, untuk propaganda Tri Panji dan program perjuangan rakyat. Tapi sejak awal terbongkar sudah posisi sejati dari siasat ini, bukan pemilu yang diintervensi untuk bangun gerakan, tapi SEBALIKNYA yaitu intervensi gerakan dan kesadaran rakyat untuk percaya dan mencintai PBR dan pemilu itu sendiri yang jelas-jelas anti rakyat. Kenyataan di pemilu legislatif lalu menjelaskan ini, bagaimana organisasi dan caleg Papernas sibuk menutupi kebusukan PBR (Papernas sama sekali TIDAK PERNAH kritik PBR!), persis seperti orang PBR asli. Kesempatan masuk TV tidak dipergunakan untuk menyerukan agar rakyat percaya gerakan, tapi sepenuhnya mengajak rakyat percaya pemilu (dengan mencoblos PBR). Terang sudah, tugas mendesak bagi pimpinan dan caleg Papernas HANYALAH masuk DPR, dan BUKAN bangun gerakan buruh dan gerakan rakyat. Maka wajar jika pada akhirnya PBR menjadi pendukung SBY (yang sebelumnya disebut musuh), Papernas tidak menolak. Ketiadaan propaganda itu bukan karena pimpinan Papernas tidak mampu, tapi memang TIDAK MAU karena akan membahayakan koalisi dengan PBR. Inilah yang disebut dengan mengikatkan tangan dan kaki. Siasat intervensi untuk propaganda gerakan, terbukti BOHONG. Kebohongan yang sengaja, untuk rakyat maupun massa Papernas sendiri.

Alasan lain masuk PBR adalah siasat untuk memperluas struktur gerakan. Akhirnya juga terbukti alasan ini tidak lebih merupakan siasat penipuan (kepada internal dan rakyat), agar mendapat kursi semata. Lihatlah, dimana-mana potensi rakyat yang siap melawan elit dan penguasa busuk, telah diwadahi oleh Papernas dalam wadah dan politik PBR. Struktur PBR berkembang pesat dengan bantuan Papernas. Misalnya buruh diwadahi dalam Persatuan Buruh Reformasi, yang lebih disiapkan untuk mobilisasi suara PBR daripada mobilisasi politik kaum buruh. Makanya jangan kita cari struktur PBR yang jadi Papernas, karena sejak awal memang direncanakan adalah merubah struktur Papernas dan struktur perlawanan massa, menjadi struktur PBR (dan karena Bursah Zarnubi menjual PBR ke SBY, maka sekaligus struktur suara ‘karya’ Papernas tersebut sangat mungkin jadi struktur SBY). Siasat perluasan struktur gerakan jelas sudah kebohongannya. Ternyata rakyat dan anggota Papernas yang telah ‘disiasati’ agar jadi struktur politik musuh rakyat.

Alasan lain lagi masuk PBR adalah sebagai siasat politik gerakan di tengah kaum gerakan yang ‘mati suri’. Papernas bilang, kalau gerakan berpotensi besar pasti Papernas di gerakan, dan karena gerakan sedang surut maka perlu siasat sementara dengan masuk dulu ke PBR. Ini juga kebohongan yang vulgar. Tidak saja Papernas meninggalkan tanggung jawab bangun gerakan, lebih dari itu, pimpinan Papernas menjadikan politik dan organisasi Papernas sebagai mesin penghambat politik gerakan. Pimpinan Papernas berbohong (terutama di internal), karena pada kenyataannya rakyat di mana-mana sedang meningkat perlawanannya. Konsolidasi gerakan buruh misalnya, seberapapun besarnya juga masih terus berjalan di ABM. Tidak ada siasat dan kepentingan elit Papernas untuk membangun gerakan, semuanya bohong, adanya adalah mengajak rakyat untuk lebih percaya PBR daripada ABM dan politik gerakan pada umumnya.

Banyak lagi alasan lain, kebohongan lain. Tidak usah sampai persoalan kebohongan dalam hal dana (katanya dana yang didapat selama pemilu akan dipakai untuk bangun gerakan, tapi yang terjadi dana gerakan yang dihabiskan untuk pemilu, bahkan meninggalkan banyak hutang, persis seperti partai borjuasi), bahkan misalnya bukan dari persoalan dana semacam itu, kebohongan dari siasat-siasat pimpinan Papernas masih banyak lagi yang langsung menghajar ideologi-politik-organisas

i kaum buruh dan gerakan (baik internal maupun gerakan rakyat pada umumnya).


Mengabdi JK – Win: Melanjutkan Oportunisme dan Menuntaskan Proses Pembusukan Internal

Politik oportunis (atau politik asal untung) di pemilu legislatif pasti tidak menghasilkan seperti yang diinginkan. Sudah jelas di atas, HASIL yang dimaksud adalah bukan politik dan struktur gerakan, tapi kursi DPR/DPRD dan jabatan ekonomis. Sehingga jawabannya sudah pasti: Bukan mengaku salah dan kembali ke gerakan, TAPI secepatnya ‘banting strir’ ke majikan lainnya. Dita Indah Sari segera muncul sebagai bagian tim pemenangan JK-Win, dan politik Papernas-Ormas segera disiapkan untuk masuk pilpres. Siasat politik utamanya adalah ‘Asal Bukan SBY’, dan bisa menjadi bagian dari JK – Wiranto maupun Mega – Prabowo. Atasnamanya adalah: membela kepentingan rakyat dengan politik melawan neo-liberalisme, dengan menyerang SBY sebagai agen utama neo-liberalisme di Indonesia.

Semakin jelas, ‘siasat intervensi pemilu’ ala Papernas BUKAN siasat kaum gerakan, dan sebaliknya telah tampil persis seperti siasat elit politik menghancurkan gerakan (tidak berbeda dengan Soeharto dulu yang menjalankan siasat untuk menghancurkan gerakan dengan menyekolahkan aktivis ke luar negeri, atau memberi modal usaha, atau diberi jabatan). Sekarang alasan Papernas lebih berani terbuka mendukung dan menyamakan diri dengan elit, seperti ketika Dita menyatakan politik Jusuf Kala sejalan dengan program anti neo-liberal Papernas. Jelas sekali, ternyata perjuangan Dita dan elit Papernas dalam melawan Neo-liberalisme adalah sama dengan Jusuf Kala (yang merupakan agen neo-liberalisme di Indonesia itu). Semakin jujur dalam berpihak: memilih elit politik dan meninggalkan gerakan buruh/rakyat!

‘Siasat’ anti neo-liberal adalah palsu! Tapi dipaksakan DIta dan Papernas biar kelihatan berjuang untuk buruh dan rakyat. Sambil bergandeng mesra dengan GOLKAR (kekuatan sisa orde baru utama) dan Hanura (struktur politik militer orba yang baru). Pada kenyataannya, semua ellit politik tetaplah busuk, namun Dita cs justru turut membantu kebohongan salah satu Capres/wapres Jusuf Kala-Wiranto dan menjerumuskan buruh dan rakyat untuk percaya pada Golkar-Militer. Siasat busuk ini jika kesulitan dipertangungjawabkan, nantinya secara organisasi posisi Dita hanya akan dimunculkan sebagai posisi pribadi dan bukan organisasi (pura-pura Dita keluar Papernas atau dengan cara lain). Walaupun sejatinya ini keputusan organisasi, hasil kesepakatan elit pimpinan Papernas yang telah digodog beberapa bulan ini.
Alasan utama yang tidak bisa ditutupi adalah kepentingan untuk ambil untung secara personal, bukan keuntungan politik gerakan. Keuntungan personal yang anti gerakan ini, inginnya pimpinan Papernas juga didapat oleh jajaran pimpinan struktur Papernas di daerah. Sehingga terlihat di media massa, struktur Papernas daerah beda-beda, ada yang masuk Tim JK – Win, ada juga masuk Mega – Prabowo. Massa Papernas dan ormas-ormas pendukung pasti tidak mendapat manfaat, maka perlu diyakinkan (baca: ditipu) bahwa taktik sekarang adalah juga bagian perjuangan yang harus dikerjakan tanpa pamrih!

Maka lengkap sudah, makin jelas kehendak penyatuan elit Papernas ke musuh-musuh kaum buruh dan rakyat. Politik asal untung atau oportunisme elit Papernas ini dipaksakan lagi untuk internal Papernas menerima, dan memberi contoh (yang buruk) bagi rakyat dan gerakan. Semakin diterima di internal Papernas siasat busuk ini, maka makin lancar pembusukan ideologi-politik-organisasi dalam tubuh Papernas dan ormas pendukung. Sekaligus mempengaruhi gerakan pada umumnya, untuk selalu bersekutu dengan musuh rakyat!

Tugas Kaum Gerakan: Bangun Kekuatan Alternatif, Hancurkan Kekuatan Musuh Rakyat

Taktik intervensi Pemilu, mestinya diletakkan di atas landasan untuk menguatkan gerakan demokratik sampai mampu merebut panggung politik nasional dari elit-elit borjuasi yang selama ini setia menjadi calo kaum pemodal. Tentu saja ini HANYA BISA dijalankan dengan alat/organisasi gerakan sendiri. Selain itu, momentum pemilu sebisa mungkin dimanfaatkan untuk memunculkan alat politik alternative di mata rakyat. Artinya, alat politik alternative tersebut harus mempunyai karakter demokratik kerakyatan. Dengan demikian, tidak mungkin menggunakan alat politik yang sudah busuk dan jelas merupakan musuh rakyat seperti PBR, Golkar maupun Militer. Sejatinya, semua partai-partai politik yang ada, baik yang baru dibentuk maupun yang sudah lama merupakan bentukan dari sisa-sisa orde baru atau elit-elit yang tidak memiliki keberpihakan pada kepentingan rakyat. Tak perlu sulit-sulit mencari bukti mengenai karakter elit-elit politik Indonesia. Dalam sejarahnya, elit borjuasi Indonesia tidak pernah tegas melawan kapitalisme. Terus tunduk, hingga semua kekayaan alam tergadaikan dan masa depan rakyat terancam. Maka, taktik Papernas dengan menggunakan PBR sebagai alat mengikuti Pemilu 2009 dan menjadi pendukung JK-Win sebagai Capres Cawapres 2009 jelas telah membunuh Papernas sebagai alat alternative di depan rakyat.

Tidak ada yang salah dari mengintervensi Pemilu dengan berupaya menjadi peserta Pemilu 2009, menjadikan Pemilu sebagai panggung propaganda dan memunculkan alat alternative dari momentum tersebut. Akan tetapi kesulitan-kesulitan dalam menembus Pemilu 2009 semestinya dihadapi, didobrak dengan kekuatan rakyat. Bukan sebaliknya, dihindari dan memilih memenuhi syarat-syarat Pemilu yang tidak demokratis tersebut. Poinnya bukan terletak pada gagal atau tidaknya memasuki gedung parlemen, tapi keberhasilan gerakan memunculkan alat politik alternative di tengah Pemilu 2009 yang tidak demokratis dan anti rakyat. Hadir di tengah-tengah rakyat sebagai alternative, sehingga rakyat melihat alat alternative ini sebagai pilihan. Meski, tidak lolos dalam Pemilu 2009, jika rakyat melihat Papernas sebagai alternative maka pilihan golput diambil bukan karena kesadaran pasif, akan tetapi kesadaran bahwa pilihan sejatinya, alat politik alternative tidak bisa lolos Pemilu 2009 karena sistemnya yang tidak demokratis. Dengan melebur ke PBR dan mendukung JK-Win, maka alat politik alternative telah dimatikan. Kini, setelah tetap gagal, meski individu-individu Papernas sudah beramai-ramai menjadi Caleg dari berbagai partai-partai politik busuk, dan propaganda Sosialisme justru tidak terkampanyekan, maka terbuktilah bahwa dengan menggunakan taktik kooptasi, tidak akan pernah ada propaganda demokrasi maupun kerakyatan, apa lagi Sosialisme.

Politik Kooptasi Terbukti Gagal: Saatnya Bangun Kekuatan Anti Kooptasi dan Kooperasi

Dalam merumuskan strategi dan taktik, dibutuhkan landasan yang obyektif mengenai situasi nyata dalam masyarakat dan kesadaran massa rakyat. Agar lebih bijak dalam merumuskan strategi dan taktik yang sesuai dengan situasi obyektif dan potensi untuk mencapai kekuatan politik, bahkan untuk memenangkan hegemoni politik kiri, merebut panggung politik nasional dari musuh-musuh rakyat, termasuk di antaranya elit politik borjuasi.

Kesadaran massa hari ini, pasca reformasi 1998, tercermin dalam setiap aksi-aksi massa yang dilakukan oleh seluruh elemen massa rakyat, baik yang terorganisir maupun yang spontan. Hampir setiap hari, media massa baik cetak, layar kaca, maupun on line tak pernah luput dari berita aksi massa. Hal ini mencerminkan bahwa, rakyat telah belajar bagaimana melakukan perlawanan yang efektif, yakni melalui mobilisasi massa menuntut dengan serangan baik ke istana kepresidenan, instansi-instansi pemerintahan sebagai symbol kekuasaan sampai ke tingkat terendah yakni kantor kelurahan. Kemajuan inilah yang mesti dihargai dan dimajukan lagi tingkat perlawanannya, tidak lagi bersifat lokal, spontan, fragmentatif dan ekonomis. Namun lebih dari sekedar itu, meningkatkan segi kualitasnya menjadi padu, tidak lagi fragmentatif dan politis. Jawabannya hanya satu, membangun alat alternative yang berbasis pada kekuatan rakyat sendiri, yang mandiri dan tidak terkooptasi pada elit poltik. Keterikatan secara ideologi, politik, dan organisasi seperti yang sudah diulas di atas jelas merugikan kepentingan rakyat dan gerakan melawan kapitalisme.

Tidak ada kata terlambat untuk mengakui kekeliruan dan memperbaiki kesalahan. Kesalahan taktik kooptasi yang sebelumnya dijalani di Papernas mesti dijawab dengan evaluasi kritis dari sebagian anggota Papernas dan tentu saja memutuskan TIDAK untuk politik Kooptasi. Siap meninggalkan Dita Cs dan pimpinan-pimpinan Papernas lainnya yang konsisten dengan politik kooptasi dan kooperasinya, mengikatkan tangan dan kakinya pada kekuatan elit. Lebih dari itu, siap pula untuk diuji komitmennya terhadap gerakan rakyat.
 
*Anggota KPRM-PRD dan Deputi Dept. Pendidikan dan Propaganda DHN PPRM