|
There are no translations available.
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Surabaya Multi Kelas Kupang, merupakan salah satu Sekolah Tinggi cabang STIKES Surabaya yang beridiri di Kota Kupang. Dikatakan, berdirinya kampus ini untuk menambah tenaga kesehatan yang masih minim di Kupang, NTT. Akan tetapi, hal itu BOHONG! Faktanya, pendirian STIEKES Surabaya Multi Kelas Kupang ini hanya untuk mendapatkan keuntungan belaka.
Persoalan yang dialami oleh kawan-kawan mahasiswa SIEKES Surabaya Multi Kelas Kupang menggambarkan carut marutnya dunia pendidikan di Indonesia. Dunia pendidikan yang dikomersilkan hanya berlandaskan pada keuntungan pada bisnis semata, berakibat pada mudahnya sebuah institusi pendidikan berdiri, meski tanpa ijin. Akibatnya, banyak lulusannya yang terlantar tanpa pekerjaan karena ijasah mereka yang dinilai tidak sah.
Akar dari persoalan pendidikan ini adalah diterapkannya kapitalisme pendidikan di Indonesia, dimana pendidikan dijadikan lahan bisnis untuk mengeruk keuntungan dan mahasiswa menjadi pasar potensial. Maka, tidak heran jika harga pendidikan semakin mahal. Terlebih, jika tidak ada jaminan lapangan pekerjaan dari negara di tengah situasi krisis.
Komersialisasi pendidikan terus berlanjut dengan disahkannya UU BHP yang mengijinkan masuknya modal asing dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan pada akhirnya memasuki pasar bebas, dengan jaminan Undang-Undang BHP oleh pemerintah. BHP tak lebih dari bentuk privatisasi yang diperhalus sedemikian rupa dengan menggunakan prinsip Nirlaba, dengan dalih untuk membendung komersialisasi atau kapitalisasi pendidikan. Akan tetapi fakta berbicara lain. Pemerintah telah mengeluarkan Perpres no 76 dan 77 yang merupakan turunan dari UU Penanaman Modal Asing. Dalam perpres itu dengan jelas dinyatakan bahwa penanaman modal asing diperbolehkan sampai sebesar 40% bagi sektor pendidikan. Dengan demikian, konsep nirlaba yang dicantumkan di UU BHP, tak lebih sebagai pemanis agar terlihat demokratis dan melindungi pendidikan nasional. Ketika dunia pendidikan diberikan kepada para pemodal sebagai lahan bisnis, tak ayal lagi akumulasi modallah yang menjadi imannya, bukan pendidikan sebesar-besar untuk manusia. Rakyat miskin Indonesia pun, semakin dimatikan potensinya untuk lebih maju dan cerdas. Sementara, para mahasiswa yang sedang mengeyam pendidikan perguruan tinggi terancam terhenti akibat mahalnya biaya pendidikan. Di samping itu bagi mahasiswa yang telah lulus dihadapkan pada semakin minimnya lapangan kerja atau pada upah yang rendah karena negara ini konsisten dalam menjalankan politik upah murah (seperti PB 4 Menteri). Apa lagi, dengan ijasah yang tak berlaku karena dikeluarkan dari universitas yang tidak berizin seperti yang kini menimpa kawan-kawan STIEKES Surabaya multi kelas Kupang
Sebenarnya, kasus yang menimpa mahasiswa STIEKES Surabaya Multikelas Kupang tidak perlu terjadi, sebab untuk membiayai pendidikan gratis, sebenarnya negeri ini mampu.Sehingga negara tidak perlu melepas peran pendidikan kepada pihak pemodal. Indonesia mempunyai sumber daya alam yang luar biasa, yang bisa diolah untuk membiayai kesejahteraan rakyat termasuk pendidikan gratis. Pendapatan dari berbagai pertambangan asing di Indonesia seperti ExxonMobil pada tahun 2007 berdasarkan laporannya, mencapai angka $ 40,6 Billion atau Rp3.723triliun serta Cevron di tahun 2007 yang mampu memperoleh keuntungan sampai $ 18,7 Billion atau Rp 171 trilliyun. Demikian pula dengan 137 pertambangan asing lainnya di Indonesia yang juga mengeruk keuntungan di negri berlahan subur ini. Bandingkan dengan keuntungan pemerintah dari hasil tambang yang telah dijual ke asing, tidak pernah menembus angka 3%. Sungguh hal yang ironis.
Berdasarkan paparan tersebut di atas, maka kami dari LMND Politik Rakyat Miskin menyerukan kepada seluruh gerakan mahasiswa supaya bersatu bersama gerakan rakyat untuk:
1. Mendukung dan memberikan solidaritas sebesar-besarnya pada perjuangan kawan-kawan STIEKES Surabaya Multi Kelas Kupang untuk menuntut haknya.
2. Mencabut UU BHP yang melegalkan komersialisasi pendidikan
3. Membangun alat persatuan nasional yang mandiri antara mahasiswa, buruh, Kaum Miskin Kota, tani dan elemen rakyat lainnnya sebagai alat perjuangan alternatif rakyat.
BANGUN PENDIDIKAN GRATIS, ILMIAH, DEMOKRATIS DAN BERVISI KERAKYATAN!
Jakarta, 13 Agustus 2009
Juru Bicara LMND – PRM
Paulus Suryanta Ginting |