Direction
| STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA [XIII - XVI] |
|
| Written by Doug Lorimer |
|
There are no translations available.
Stalin menuduh Partai Komunis Cina melakukan ‘kesalahan Menshevik’ 2. Slogan “soviet” yang di gagas Lenin untuk Cina (pada awal 1920-an) memiliki sejumlah kemungkinan pembenaran pada kondisi tahun 1926-1927. Pembentukan sovyet di Cina akan memberikan kemungkinan adanya sebuah bentuk organisasi yang dapat mengkonsolidasikan petani di bawah kepemimpinan kaum proletar. Sovyet akan menjadi institusi sejati bagi kediktatoran demokratik revolusioner proletar dan petani. Selain itu, Sovyet juga akan menjadi institusi untuk mempertahan diri dari serangan borjuis Kuomintang, dan kaum milteris yang berasal dari Koumontang. Doktrin Lenin yang mengatakan bahwa revolusi borjuis-demokratik—yang bisa diemban oleh persatuan kelas pekerja dan kaum petani (di bawah kepemimpinan kelas pekerja—dalam melawan kaum borjuis, bukan saja bisa diterapkan di Cina dan negeri-negeri kolonial serta semi-kolonial (yang mirip), tetapi faktanya mengindikasikan sebagai satu-satunya jalan menuju kemenangan dalam negeri-negeri tersebut. 3. Dengan demikian, kediktatoran demokratik-revolusioner proletar dan petani, yang akan berbentuk sovyet di Cina, memiliki banyak peluang—dalam masa perang imperialis saat ini, dalam massa dan revolusi proletar, dan dalam massa keberhasilan mendirikan negara USSR—untuk berkembang secara relatif lebih cepat menuju revolusi sosialis. Tanpa perspektif tersebut, satu-satunya perspektif adalah jalan Menshevik, yakni beraliansi dengan borjuis liberal yang, tak terelakkan, akan menggiring kelas pekerja pada kekalahan. Dan hal itulah yang terjadi di Cina pada tahun 1927. Seluruh keputusan yang dibuat oleh konggres Komunis Internasional ke-2 dan ke-4, pada masa Lenin (masih hidup)—yakni keputusan tentang sovyet di negeri timur, tentang kemandirian penuh partai Komunis kelas pekerja dalam gerakan revolusi nasional, dan tentang persatuan kelas pekerja dengan petani dalam melawan “borjuisnya sendiri” serta imperialis asing—semuanya telah dilupakan… Saat mengejek ajaran Lenin, Stalin menegaskan bahwa slogan sovyet di Cina dapat diartikan sebagai tuntutan untuk membentuk kediktatoran proletar secepatnya. Namun, pada faktanya, sejak revolusi tahun 1905, Lenin hanya mengajukan slogan sovyet sebagai organ kediktatoran demokratik proletar dan petani … Pada awalnya (Stalin-Martynov-Bukharin)
menyandarkan segalanya pada Chiang Kai-shek, lalu pada T’ang Sheng-chih, kemudian pada Feng-Yu-Hsiang, dan seterusnya “mencoba-coba, mudah-mudahan benar” pada Wang Ching-wei. Dari satu orang ke yang lainnya—di antara algojo kaum buruh dan petani—yang mereka puji-puji sebagai “pejuang penentang imperialisme” dan sekutu “kita”. Kebijakan Menshevik tersebut sekarang diterima secara penuh tanpa tedeng aling-aling dan, secara terbuka, mengebiri ajaran Lenin. Stalin-Bukharin dan “murid yang masih muda” sekarang sibuk mencoba “membuktikan” bahwa ajaran Lenin tentang gerakan nasional-revolusioner sebenarnya memberikan dampak pada posisi membenarkan “aliansi dengan kaum borjuis”… Bagaimana Lenin akan menyalahkan orang-orang tersebut, yang berani mengatasnamakan dirinya saat memberikan pembenaran atas kebijakan Menshevik—yakni bersekutu dengan Chiang Kai-shek dan Wang Ching-wei. Lenin sendiri bicara tentang hal-hal tersebut pada Maret, 1917: “Yang sedang kita perjuangkan adalah revolusi borjuis; oleh karenanya kaum buruh harus mendukung kaum borjuis, sebagaimana dikatakan oleh (para likwidator) Ptresovs, Gvozdyovs, dan Chkheidzes, sebagaimana juga yang dikatakan yang dikatakan Plekhanov, kemarin. “Yang sedang kita perjuangkan adalah revolusi borjuis dan, kita, kaum Marxis, harus mengatakan; oleh karenanya kaum buruh harus membuka mata rakyat terhadap praktek penipuan yang dilakukan oleh para politisi borjuis, mengajarkan pada mereka untuk tidak menaruh kepercayaan pada kata-kata belaka, tapi bergantung sepenuhnya pada kekuatan sendiri, pada organisasi milik mereka sendiri, pada persatuan di antara mereka sendiri, dan pada senjata mereka sendiri” (Collected Works, Jilid. 23, hal. 306). Tidak ada kejahatan yang lebih besar terhadap proletar internasional selain upaya tersebut, yakni menghadirkan Lenin sebagai rasul bagi “aliansi dengan kaum borjuis.” [Platform of the Opposition dalam Trotsky, The Challenge of the Left Opposition, 1926-27 (New York, 1980), hal. 368-373] Sebagai Respon atas kritikan kaum oposisi kepada pleno bersama Komite Sentral CPSU dengan Komisi Pemantau Sentral, yang diselenggarakan pada tanggal 29 Juli-9 Agustus, 1927, Stalin menyatakan bahwa “Kaum oposisi berteriak bahwa Partai Komunis Cina….telah melakukan kesalahan Sosial Demokratik, kesalahan Menshevik. Hal itu benar. Namun, sama sekali tidak benar bila kepemimpinan Komintern yang dipersalahakan atas kesalahan tersebut.” Stalin kemudian melakukan pembelaan atas kebijakan Komintern di Cina sebagai berikut: Gambaran karakteristik tahap pertama revolusi Cina adalah, pertama, revolusi tersebut merupakan revolusi front persatuan seluruh-nasional dan, kedua, diarahkan terutama untuk melawan penindasan bangsa asing (Pemogokan Hongkong, dan lain sebagainya)… Apa yang dilakukan oleh Kuomintang dan pemerintahannya pada tahap pertama revolusi, yakni periode Canton? Mereka mengkonsolidasikan blok buruh, petani, intelektual borjuis dan borjuis nasional… Sebagai pemerintahan yang berjuang untuk kemerdekaan dari imperialisme, apakah kebijakan pada saat itu, yakni mendukung pwemerintahan Kuomintang-Canton, sudah benar?... Ya, kita sudah benar… Tetapi, apa makna front persatuan dengan borjuis nasional pada tahap pertama revolusi kolonial? Apakah maknanya bahwa kaum Komunis tidak harus mengintensifkan perjuangan buruh dan petani dalam melawan tuan tanah dan borjuis nasional, bahwa kaum proletar harus mengorbankan kemerdekaannya sekecil dan sesingkat apapun? Bukan, bukan itu maknanya. Suatu front persatuan bisa menjadi penting dan revolusioner hanya jika, dan hanya pada kondisi, bahwa hal tersebut tidak menghalangi Partai Komunis dalam menjalankan politiknya yang independen dan kerja organisasinya—mengorganisir kaum proletar hingga menjadi kekuatan yang independen, membangkitkan kaum petani untuk melawan tuan tanah, mengorganisir revolusi ‘kaum buruh dan petani’ secara terbuka, dan mempersiapkan jalan bagi hegemoni kaum proletar. Aku pikir pihak yang memberikan laporan telah membuktikannya dengan lengkap berdasarkan pada dokumen yang diketahui secara universal, yang membenarkan ketepatan konsepsi front persatuan tersebut, dan itulah yang membuat Komintern terkesan kepada Partai Komunis Cina…. Sementara gambaran yang berbeda dari tahap pertama adalah bagaimana menjadi pimpinan revolusi (terutama) dalam melawan imperialisme asing, maka gambaran karakteristik tahap kedua adalah menjadi pelopor revolusi yang sekarang arahnya berganti menjadi melawan musuh di dalam, terutama melawan tuan tanah feudal, melawan rejim feudal. Apakah tahap pertama telah menuntaskan tugasnya dalam menggulingkan imperialisme asing? Tidak. Pemenuhan tugas tersebut harus diwariskan pada tahap kedua revolusi Cina. Hal itu semata-mata untuk memberikan guncangan pertama pada massa revolusioner agar bangkit mereka melawan imperialisme, hanya untuk mempercepat jalannya revolusi dan memberikannya tugas masa depan. Apa tugas kaum Komunis pada tahap kedua revolusi di Cina saat pusat gerakan revolusioner dengan jelas telah pindah dari Canton ke Wuhan, dan ketika—paralel dengan pindahnya pusat revolusioner ke Wuhan—pun pusat kontra-revolusioner didirikan di Nanking?... Tugasnya adalah mendorong Kuomintang di Wuhan menjadi kiri, yakni mengarahkannya menuju revolusi agraria. Tugasnya adalah untuk mendorong Kuomintang di Wuhan menjadi pusat perjuangan melawan kontra-revolusi dan menjadi inti kediktatoran demokratik-revolusioner proletar-petani di masa yang akan datang. Apakah kebijakan tersebut benar? Fakta menunjukkan bahwa hanya kebijakan itulah yang benar, satu-satunya kebijakan yang mampu melatih massa buruh dan petani agar mendorong perkembangan revolusi lebih jauh lagi… Pihak Oposisi ribut-ribut menyombongkan kebijakannya dalam masalah Cina, dan menegaskan bahwa kebijakan[nya] akan mengangkat situasi Cina saat ini menjadi lebih baik daripada sekarang. Hampir tak perlu bukti untuk menjawab kritik Oposisi tersebut: bila kesalahan besar yang dilakukan oleh pihak Oposisi dituruti oleh Partai Komunis Cina, maka Partai Komunis Cina akan terjebak di jalan buntu dan akan menerima kebijakan yang anti-Leninis serta advonturir dari pihak oposisi. Faktanya, Partai Komunis Cina dalam waktu yang singkat telah tumbuh dari sebuah partai kecil (dengan jumlah anggota lima atau enam ribu orang) menjadi partai massa (dengan sekitar 60.000 anggota); faktanya, Partai Komunis Cina telah berhasil mengorganisir hampir 3.000.000 massa serikat buruh dalam periode tersebut; faktanya, Partai Komunis Cina telah berhasil membangkitkan jutaan kaum petani (yang sebelumnya lamban), dan sedang menarik sepuluh juta petani ke dalam asosiasi petani revolusioner; faktanya Partai Komunis Cina selama periode tersebut telah berhasil mengalihkan hampir seluruh resimen dan divisi dalam pasukan nasional ke pihaknya; faktanya Partai Komunis Cina selama periode tersebut telah berhasil mengubah gagasan yang menghegemoni kaum proletar—dari aspirasi menjadi kenyataan; faktanya, Partai Komunis Cina dalam waktu yang singkat telah berhasil mencapai semua tujuan tersebut semata-mata karena, di antara berbagai hal lainnya, mengikuti alur yang telah digariskan oleh Lenin, alur yang digariskan oleh Komintern (Stalin, The International Situation and the Defence of the USSR, ibid, hal. 777-778, 786-788, 796-797) Faktanya, bagaimanapun juga, Stalin itu kepala batu. Fakta menunjukkan bahwa semuanya itu bukanlah hasil kebijakan Oposisi (di dalam) CPSU melainkan hasil kebijakan Komintern—sebagaimana ditegaskan oleh Stalin-Bukharin-Martynov—dan kebijakan-kebijakan tersebut adalah anti-Leninis dan telah menempatkan Partai Komunis Cina ke “jalan yang benar-benar buntu.” Saat Stalin mengakui bahwa Partai Komunis Cina bertanggungjawab atas “kesalahan Menshevik,” dia menolak untuk mengakui bahwa kesalahan tersebut merupakan perwujudan dari kesetiaannya pada Menshevik—dalam bentuk kebijakan “blok empat kelas.” Kebijakan tersebut berakar dari upayanya untuk mengsubordinasikan kepentingan petani dan pekerja Cina kepada tujuan kebijakan luar negeri penguasa birokratik yang dia kepalai di Uni Sovyet—yakni mengamankan aliansi diplomatiknya dengan pemerintah borjuis yang “bersahabat.” Setelah kekalahan di Wuhan, yang merupakan kekalahan menentukan dalam revolusi Cina yang kedua, pimpinan Stalinis Komintern nampaknya berusaha melemparkan kesalahan atas bencana tersebut pada pimpinan Partai Komunis Cina, terutama sekretaris jendralnya, Chen Tu-hsiu. Pada tanggal 7 Agustus, 1927, sebuah pertemuan Komite Sentral Partai Komunis Cina diselenggarakan secara rahasia di Wuhan. Menurut Chu Chiu-Pai, pertemuan tersebut “diselenggarakan karena ada permintaan melalui telegram dari Komintern, dan dibawah tuntunan perwakilan Komintern” Vissarion Lominadze, yang tiba di Wuhan pada tanggal 23 Juli dengan mandat pribadi dari Stalin. Walaupun Chen tidak dihadirkan, pertemuan tersebut mengeluarkan sebuah memorandum yang menuduh pimpinan Partai Komunis Cina telah menentang hasil keputusan pleno ECCI ke-8 (bulan Mei, 1927); atau Partai Komunis Cina dituduh bertujuan “mempertahankan keistimewaan citra-diri politiknya”, telah melakukan segala sesuatu “dengan mengidentifikasikan diri secara penuh kepada kepemimpinan ‘Kiri’ Kuomintang,” dan melakukan kesalahan “oportunisme kanan.” (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 825] Chen dijadikan kambing-hitam atas kegagalan kebijakan Komintern, dan digantikan oleh Chu Chiu-pai. Berbalik menjadi advonturisme ultra-kiri Pada tanggal 28 Juli, 1927, Stalin mempublikasikan sebuah artikel di Pravda yang menolak pandangan Oposisi CPSU—yang menyatakan bahwa revolusi Cina yang kedua telah mengalami kekalahan yang telak. Sebaliknya, Stalin justru membandingkan situasi di Cina dengan periode segera sesudah revolusi Rusia, Februari, 1917—saat Bolshevik, untuk sementara waktu, harus bergerak di bawah tanah pada masa pemerintahan Kerensky—yakni: …Dalam waktu dekat ini—bukan dua bulan, tetapi dalam enam bulan atau satu tahun dari sekarang—suatu pemberontakan-revolusi yang baru harus diwujudkan; selain itu, kita juga bisa menghidupkan pembicaran tentang persoalan pembentukan sovyet perwakilan petani dan buruh, dan menjadikannya menjadi slogan saat ini, sehingga bisa menjadi kekuatan yang akan mentralisi pemerintahan borjuis… Konsekwensinya, berbarengan dengan perjuangan untuk menggantikan kepemimpinan Kuomintang saat ini melalui kepemimpinan revolusioner, maka dengan segera dibutuhkan, bahkan sebelum pemberontakan dimulai, mengarahkan propaganda yang luas tentang gagasan sovyet pada massa rakyat pekerja yang lebih besar, tanpa bergerak terlalu jauh ke depan dan membentuk soviet secara terburu-buru, mengingat sovyet hanya akan tumbuh subur pada saat terjadi pemberontakan revolusioner yang berkekuatan. [Stalin, Notes on Contemporary Themes, ibid, hal. 761-762] Dengan tujuan untuk memperbaiki tanggungjawab pimpinan Komintern atas kekalahan revolusi Cina yang kedua, dan untuk menetralisir kritikan pihak Oposisi, Stalin, dengan nekad, menyangkal bahwa revolusi telah dikalahkan dengan telak. Melalui wakilnya di Cina, Stalin kemudian mengirimkan instruksi kepada kaum Komunis Cina—tanpa mempertimbangkan kondisi yang mereka hadapi sekarang—untuk mengorganisir sebuah “pemberontakan-revolusi yang baru.” Secara singkat, sebelum rapat “Komite Sentral” Partai Komunis Cina pada tanggal 7 Agustus, Lominadze menyetujui sebuah rencana untuk melakukan aksi militer di Nanchang, ibukota provinsi Jiangxi, yang akan dipimpin oleh dua jendral Komunis yaitu, Ho Lung dan Yeh Ting. Sesuai dengan rencana, Ho dan Yeh akan mendeklarasikan independensi mereka dari pemerintahan Nanking dan membawa barisan tentara mereka ke selatan, menuju Guangdong. Pada tanggal 1 Agustus, Ho dan Yeh melancarkan kudeta militer di Nanchang dengan dukungan sekitar 30.000 tentara. Mereka mengambilalih kedudukan garnisun kaum nasionalis dengan serangan mendadak, cepat dan melucutinya. Namun demikian, penduduk kota tak mengetahui apa yang terjadi, hampir tak mengetahui tentang adanya kudeta militer. Pada hari yang sama, para pemberontak mengumumkan terbentuknya sebuah “Komite Revolusioner Kuomintang”, yang beranggotakan 25 orang, di antaranya tokoh terkemuka Nyonya Sun Yatsen (kemudian pergi ke Noscow) dan Jendral Chang Fa-kuei (Komandan kekuatan yang sedang dilawan oleh kudeta tersebut!). Seluruh pos penting ditempati oleh para anggota Partai Komunis Cina. Tentu saja, begitu banyak pimpinan masa depan Tentara Merah Cina yang dilibatkan—termasuk Ho Lung, Yeh Ting, Chu Te, Chou En-lai, Chen Yi, dan Lin Piao—dan peringatan aksi tersebut (yang sepenuhnya militer) sekarang diperingati sebagai Hari Tentara Cina. Mao, bahkan, diceritakan merupakan penembak pertama perlawanan terhadap Kuomintang di Nanchang itu. Tetapi itu sepenuhnya bohong. Mao tidak berada di Nanchang, dan pemberontakan tersebut sepenuhnya dilakukan di bawah bendera Kuomintang. Program sosial “Komite Revolusioner” sangat konservatif. Hal tersebut diindikasikan bukan saja dilihat dari upayanya untuk memposisikan diri mereka sebagai perwakilan Kuomintang “ortodok”—yang dikhianati oleh Chiang Kai-shek dan Wang Ching-wei—tapi juga dilihat dari program agrarianya. Program agrarianya hanya menyerukan pengurangan beban petani—berupa penurunan harga sewa-pembayaran kepada tuan tanah tidak lebih adalah 30% dari hasil panen—dan penyitaan atas kepemilikan tanah yang melebihi 200 mou (32 are). Hal tersebut merupakan kemunduran bahkan bila dibandingkan dengan proposal reformasi Kuomintang pada bulan April di Wuhan, yang menyerukan batas untuk penyitaan sekitar 50-100 mou (James Harrison, The Long March to Power : A history of Chinese Communist Party, 1921-1972, hal. 98-99) Jendral Chang Fa-keui dengan cepat menaklukan para pemberontak Nanchang, dipaksa evakuasi kota pada tanggal 5 Agustus. Didesak oleh tentara Chang, mereka mundur hingga ke selatan, menuju Canton. Pemberontakan Musim Panen Raya Pada rapat rahasia Komite Sentral PKC, 7 Agustus, seperangkat tesis (yang sangat luas) tentang tugas Partai dirancang oleh Lominadze, dan pemberontakan di Nanchang dianggap sebagai bukti bahwa di sana terdapat “pra-kondisi obyektif bagi sebuah pemberontakan yang baru.” Partai kemudian didesak untuk “untuk mempersiapkan dan mengorganisir pemberontakan bersenjata di provinsi-provinsi yang menjadi pusat gerakan agraria, seketika, saat masa panen raya serta penarikan uang sewa dan pajak.” Desakan tersebut juga menuntut dilakukannya “persiapan dan pengorganisasian secepatnya kebangkitan revolusioner di seluruh provinsi di Cina bila …kondisi obyektifnya mengizinkan.” Namun, upaya untuk mengorgansir kebangkitan revolusioner tersebut dilakukan “Di bawah bendera Kuominang-Kiri revolusioner.” Seruan untuk mendirikan sovyet petani dan buruh digariskan jika “pertaruhan untuk menyandarkan diri pada Kuomintang revolusioner” terbukti “gagal secara keseluruhan.” Partai Komunis Cina harus “mengakui Kuomintang dan membuatnya menjadi organisasi massa dari massa agraria dan perkotaan yang sejati.” Dua hari kemudian, Komite Sentral Partai Komunis Uni Sovyet di Moscow mengadopsi sebuah resolusi tentang masalah-masalah internasional yang, juga, memuat satu seksi tentang Cina, yang menggemakan garis dan, bahkan, bahasa tesis yang telah diadopsi oleh “Komite Sentral” Partai Komunis Cina: “Mendorong revolusi agraria sepenuh-penuhnya, penyitaan tanah oleh petani dari bawah, memajukan gerakan buruh, mempersenjati buruh dan petani, demokratisasi pada Kuomintang dan pengunduran diri para pimpinan dari pos mereka” diumumkan sebagai “slogan utama dari Komintern.” Chen Tu-hsiu dan wakilnya Peng Shu-tse dituduh telah memperlakukan revolusi Cina hanya sebagai gerakan pembebasan nasional, dengan menanggalkan “perjuangan untuk mengubah pemerintah Wuhan menjadi sebuah organ kediktatoran demokratik”, dan mempertentangkan “kepentingan kelas kaum proletar dengan kepentingan perjuangan untuk pembebasan nasional, yang merupakan konsep yang sempit mengenai gerakan proletar independen.” (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 828-829) Pada tanggal 14 Agustus, Pravda mengumumkan perkembangan “unit-unit militer revolusioner—sejauh ini tidak banyak” hanya dari Nanchang ke Guangdong, di mana terjadi “perluasan pergolakan massa” yang bangkit menyambut mereka. (Dikutip dalam Carr, ibid, p. 829]. Sebulan kemudian, 30 September, Pravda kembali mengelu-elukan barisan dari Nanchang sebagai “Awal mula pemberontakan baru untuk revolusi,” dan memberi komentar bahwa “Bukan kota dan bukan daerah proletar industrial” yang mengusung pergolakan yang baru tersebut, melainkan “sebuah gerakan partisan kaum petani.” Pada kenyataannya, para petani tidak melakukan arak-arakan ke arah pasukan Ho dan Yeh. Tetapi, dalam rangka untuk memberikan ilusi bahwa mereka benar-benar ada, komite provinsial Hunan Partai Komunis Cina, di bawah pimpinan Mao, meluncurkan apa yang kemudian dikenal sebagai “Pemberontakan Musim Panen Raya” 8 September, 1927. Pergolakan tersebut berbentuk serangan bersenjata oleh sekitar 3.000 orang pada kota distrik sebelah timur provinsi Hunan, dengan tujuan mengepung dan merebut ibukota provinsinya, Changsha. Tindakan militer yang sepenuhnya spekulatif tersebut terbukti gagal total. Kekuatan Mao yang kecil itu dengan mudah dipukul mundur oleh pasukan Nasionalis. Selama minggu-minggu terakhir tahun 1927, bersama dengan kurang dari seribu orang—yang ia sebut dengan nama megah “divisi pertama dari tentara buruh dan petani,”—Mao mengundurkan diri ke benteng pegunungan Ching Kang, perbatasan Hunan-Jiangxi. Pada hari yang sama, Pravda memuji “kemajuan” tentara Ho dan Yeh yang sedang bergerak menuju Canton sebagai “Awal mula pemberontakan baru untuk revolusi”—dengan komentar bahwa “Bukan kota dan bukan daerah proletar industrial” yang mengusung pergolakan yang baru tersebut, melainkan “sebuah gerakan partisan kaum petani.” Tentara pemberontak Nanchang menderita kehancuran. (Disebutkan dalam Carr, ibid, p, 831]. Beberapa ratus pengungsi tentara pemberontak, bersama Yeh Ting dan pimpinan pergolakan di Nanchang, melarikan diri ke Canton; yang lainnya mencoba mencapai Shanghai. Kelompok lainnya, sekitar 1.200 tentara, dikomandani oleh Chu Te (Kepala polisi rahasia Komunis Kuomintang di Nanchang), Lin Piao dan Chen Yi, melarikan diri ke area Ichang di perbatasan antara provinsi Guangdong dan Hunan, sebelum terhubung dengan angkatan Mao di pegunungan Ching Kang pada bulan April, 1928. Soviet Canton Pada tanggal 9-10 November, 1927, Komite Sentral Partai Komunis Cina menyelenggarakan pertemuan rahasia lainnya di Shanghai, di bawah arahan wakil Stalin yang baru, Heinz Neumann, yang memperbincangkan sebuah resolusi tentang keberadaan “suatu situasi revolusioner mendesak di seluruhan Cina.” Sebuah instruksi yang rinci diberikan untuk mengarahkan komite partai di provinsi Guangdong agar menyerukan “pemogokan umum politis untuk menaklukkan kekuasaan.” Kaum buruh dan petani di provinsi Guangdong dikumpulkan untuk “bangkit memberontak dan mendirikan kekuasaan politik melalui sebuah konfederasi soviet buruh, petani, tentara dan kaum miskin”, walaupun sesungguhnya badan tersebut tidak ada. (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 838] Instruksi “Komite Sentral” Partai Komunis Cina dikirim ke komite partai Guangdong di Canton oleh Neumann, yang mengambil tanggungjawab pribadi dalam mengorganisir “pemberontakan” Canton. Mereka lalu membentuk kesatuan “tentara merah” yang terdiri dari 2.000 pekerja Komunis yang aktif, dipersenjatai dengan berbagai macam senjata termasuk linggis, pedang dan pistol dalam jumlah terbatas. Pada tanggal 11 Desember, jam 3 dini hari, “tentara merah” tersebut ditambah 200 orang di bawah pimpinan seorang anggota Partai Komunis Cina, Yeh Chien-ying (staf yang bertugas pada resimen pelatihan Nasionalis), ditambah juga 1.000 orang kadet dari sekolah training militer, dan mereka menduduki pusat Canton, melumpuhkan beberapa penjaga barak, dan mendirikan “soviet buruh, petani dan wakil-wakil tentara” dengan 16 orang anggota. Tak ada seruan untuk melakukan pemogokan umum untuk menyambut serangan bersenjata tersebut. Namun demikian, sebuah telegram yang mengabarkan didirikannya “soviet” Caton segera dikirimkan ke Moscow, saat konggres Partai Komunis Uni Sovyet ke 15 sedang berlangsung. Sehari sebelumnya, dalam laporannya kepada konggres, Bukharin menegaskan bahwa telah terdapat “sebuah situasi luarbiasa yang kian memanas di sepanjang provinsi Kwangtung [Guangdong], khususnya di sekitar Canton,” dan ia berkesimpulan bahwa “di Cina peristiwa yang sangat serius sedang mematang.” (Dikutip dalam Carr, ibid, hal. 847). Reaksi spontan terhadap berita pergolakan di Canton segera dilakukan oleh Oposisi Partai Komunis Uni Sovyet—yang telah dopecat dari partai pada tanggal 15 November—yang tercatat dalam artikel yang ditulis oleh Trotsky: Kebangkitan Canton tanpa diragukan lagi merupakan zig-zag advonturir Komintern yang diinstruksikan kepada elemen Kiri, yang merupakan konsekwensi kebijakan Menshevik yang membawa bencana di Cina. Dengan demikian, mereka telah sepenuhnya memperlihatkan diri sebagai... Menshevisme dan advonturisme birokrasi yang telah melancarkan pukulan ganda terhadap revolusi Cina [Trotsky, The Canton Uprising, Leon Trotsky on China, hal. 274] Pada tanggal 15 Desember, Komite Eksekutif Komintern mengeluarkan sebuah statemen yang menyatakan bahwa: “Di Canton, kota yang semarak dengan perjuangan revolusioner, kaum buruh dan petani telah meraih kekuasaan, dan spanduk sovyet, bendera merah revolusi, telah berkibar di atas ibukota Cina selatan.” [Degras, ibid, hal. 415]. Bagaimanapun juga, sesaat kemudian, “sovyet” Canton dihancurkan oleh kekuatan gabungan pasukan nasionalis pimpinan Jendral Chang Fa-kuei dan Li Chi-shen, yang memasuki kota pada tengah hari, sekitar jam 2 siang, 11 Desember. Kemudian, 13 Desember, benteng pemberontak terakhir, yaitu kantor polisi rahasia Kuomintang, jatuh ke tangan pasukan Nasionalis. Para kader komunis diburu dan dieksekusi. Menurut laporan resmi Kuomintang, terdapat lebih dari 5.700 orang Komunis dibunuh. Penghancuran pemberontakan (rahasia dan tiba-tiba, tanpa melibatkan massa) di Canton, terjadi persis seperti sesudah peristiwa berdarah di Shanghai, Wuhan dan kota-kota lainnya, yang telah melumpuhkan gerakan massa revolusioner di Cina, dan diperkirakan sebanyak 230.000 buruh dan petani terbunuh. Keanggotaan Partai Komunis Cina segera berkurang menjadi sekitar 4.000 orang. |
KPRM-PRD's Note
Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.
A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.
Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?
Historically should note:A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.



