| STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (XI) |
|
| Written by Doug Lorimer |
|
There are no translations available.
Stalin menghidupkan kembali argumen lama Argumen Stalin tidak sepenuhnya orsinil. Argumen tersebut sebenarnya telah dimunculkan oleh Martynov…..untuk menentang Lenin pada tahun 1905. ini seharusnya dipimpin oleh, dan, memberikan kekuasaan ke tangan borjuis demokratik-liberal, dan ini bertentangan dengan pandangan Bolshevik yang menyatakan bahwa kaum Marxis (yang pada masa itu menyebutnya sebagai “Sosial-Demokrat”) harus berupaya untuk mengambil kepemimpinan dalam revolusi borjuis. Berikut adalah bagaimana Lenin meringkas argumen Martynov: Martynov tampaknya berusaha menggiring konsep Sosial-Demokratik revolusioner kearah absurditas; dia menakut-nakuti kaum social-demokrat dengan mengatakan bahwa bila kerja-kerja kita berhasil mengorganisir revolusi, dengan asumsi bahwa partai kita lah memimpin kebangkitan kekuatan bersenjata, maka kita harus berpartisipasi dalam pemerintah revolusioner sementara… Dengan berpartisipasi dalam pemeritahan sementara, kita dijanjikan bahwa Sosial-Demokrasi akan menggenggam kekuasaan di tangannya; namun, bila partai kaum proletar, Sosial-Demokrasi, tidak bisa memegang kekuasaan, maka harus ada upaya… untuk mewujudkan revolusi sosialis. Upaya semacam itulah, pada saat ini, tak terelakan lagi, akan membawa kita pada kepiluan, menodai diri sendiri, dan akan memberikan kendali ke tangan kaum reaksioner [Lenin, The Revolutionary Democratic Dictatorship of the Proletariat and the Peasantry, Collected Works (Moscow, 1962), hal. 294] Tanggapan Lenin terhadap argumen Martynov adalah: Martynov sebenarnya sedang berlaku sebagai “idola spontanitas”, dengan menganggap bahwa kaum buruh Russia akan dengan mudah melupakan bahwa, dalam rangka untuk mengambil dan memegang kekuasaan, mereka harus bisa merangkul ke sisi mereka sekutu utamanya, atau berlaku “sebagai organisator bagi aliansi dengan kalangan kaum borjuis kecil dan kaum petani, yang kebutuhan sebenarnya adalah menuntut implementasi program minimum kita (misalnya, pemenuhan revolusi demokrasi-borjuis)”. Namun, konsekwensinya, ada pendapat yang tidak masuk akal: bahwa kita “harus menahan diri, harus peduli dengan transisi yang terlalu cepat dalam mewujudkan program maksimum kita (yakni, revolusi sosialis, yang akan mengambil alih hak milik kapitalis).” (Lenin, ibid, hal. 294-295] Argumen Stalin untuk menentang adanya kebutuhan untuk mendirikan sovyet buruh dan tani dalam revolusi demokrasi-nasional di Cina hanya sekadar mengulang bantahan Martynov terhadap Lenin pada tahun 1905. Dengan memaksakan kebijakan Menshevik atas kaum Komunis di Cina, Stalin, tak bisa dibanath lagi, sedang berupaya untuk membangkitkan kembali argumen Menshevik demi membenarkan kebijakannya dan untuk untuk melawan lawannya, yakni kaum Leninis. Dalam pidato keduanya pada plenum ECCI ke-8, Trotsky membuat tanggapan terhadap Stalin, sebagai berikut: Kita semua sependapat bahwa revolusi Cina sedang terjadi dan akan terus berlanjut. Itu sebabnya pertanyaan utamanya adalah bukan pada apakah Oposisi (di Partai Komunis Uni-Sovyet/PKUS) akan memberikan peringatan, dan kapan, serta dimana peringatan itu dilakukan (saya tegaskan, PKUS memang sudah diperingatkan, dan akan saya buktikan sendiri, nanti); pertanyaannya adalah… apa yang harus dilakukan sejak sekarang untuk menarik revolusi keluar dari kekacauan karena dibimbing oleh kebijakan yang salah, dan meletakkanya pada jalan yang benar. Aku ingin, dalam beberapa patah kata, mengungkapkan inti pertanyaannya dan menunjukkan perbedaan yang tak terdamaikan antara posisi kami dengan Stalin Stalin, sekali lagi, menyatakan bahwa dirinya menentang soviet perwakilan buruh dan petani dengan argumen bahwa Kuomintang dan pemerintah Wuhan merupakan alat dan instrumen yang sudah cukup memadai bagi revolusi agraria. Dengan demikian Stalin menganggap, dan menginginkan (Komunis) Internasional juga menganggap, bahwa tanggungjawab terhadap kebijjakan Kuominang dan pemerintahan di Wuhan, seperti asumsi yang ia ulang-ulang, adalah tanggungjawab “pemerintah nasional” Chiang Kai-shek (khususnya ia nyatakan dalam pidatonya pada tanggal 5 April, stenogram pidato tersebut, tentu saja, disembunyikan dari kalangan internasional). Kami samasekali tak memiliki persamaan dengan kebijakan tersebut. Kami tak ingin punya anggapan seperti itu bahkan senadainyapun tanggung jawabnya ada pada pemerintah Wuhan dan kepemimpinan Kuomintang, dan kami mendesakkan saran kepada Komintern untuk menolak tanggungjawab tersebut. Kami katakan tanpa tedeng aling-aling pada kaum petani Cina: Bahwa pemimpin Kuomintang Kiri, seperti Wang Ching-wei dan teman-temannya, pasti akan mengkhianati kalian jika kalian mengikuti perintah Wuhan dan, akibatnya, kalian malah tak akan membentuk soviet sendiri yang independen. Revolusi agrarian merupakan hal yang sangat penting. Politikus tipe Wang Ching-wei, sedang berada dirundung kesulitan, dan akan lebih memilih bersatu dengan Chiang Kai-shek untuk melawan buruh dan petani. Di bawah kondisi demikian, dua orang Komunis dalam pemerintahan borjuis hanya akan menjadi sandera yang lumpuh, yang hanya menjadi etalasi/kedok demokrasi bagi persiapan melancarkan pukulan baru terhadap massa pekerja. Kami berkata pada kaum buruh Cina: Kaum petani tak akan berhasil melakukan revolusi agraria jika mereka membiarkan dirinya dipimpin oleh borjuis-kecil radikal dan bukannya oleh kalian, proletar revolusioner. Oleh karena itu, bangunlah soviet buruh dan bergabunglah dengan soviet petani, persenjatai dirimu melalui soviet, tembak saja jendral yang tidak mengakui soviet, tembak saja para borjuis liberal dan birokrat yang mengorganisir pemberontakan untuk menentang soviet… Kalian, kaum proletar Cina yang maju, akan menjadi pengkhianat bagi kelas kalian sendiri dan bagi misi sejarahnya, bila kalian percaya bahwa organisasi yang diisi oleh pimpinan-pimpinan borjuis-kecil, yang semangatnya cenderung komprominya, yang sekadar beranggotakan tak kurang dari 250.000 orang (lihat laporan Tan Ping-shan), memiliki kemampuan untuk menggantikan soviet buruh, petani dan tentara dalam memimpin jutaan hingga lebih dari jutaan… Kami akan mengatakan pada Komunis Cina: Program dari kamrad Ch’en Tu-hsiu, yakni menunda ‘reorganisasi” rejim (Wuhan) dan pengambilalihan tanah dari tuan tanah besar hingga bahaya perang sudah dapat dihindari, merupakan jalan yang paling pasti dan tercepat untuk menuju pada kehancuran. Bahaya perang adalah bahaya kelas. Perang kelas hanya bisa diakhiri bila tuan tanah besar dihancurkan, bila agen imperialisme dan Chiang Kai-shek ditumpas dan, hal itu, harus dilakukan bila soviet didirikan. Lebih tepatnya, dengan seperti itu, maka kita sedang melakukan perjuangan revolusi agraria, revolusi rakyat, revolusi buruh dan tani, yakni, revolusi nasional yang sejati (dalam makna Leninis, bukan dalam makna Martynovis). (Trotsky, Second Speech on the Chinese Question, ibid, hal. 234-235)
|
KPRM-PRD's Note
Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.
A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.
Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?
Historically should note:A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.


