Direction
| STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (X) |
|
| Written by Doug Lorimer |
|
There are no translations available.
Menegaskan kembali garis ‘blok empat kelas’ Trotsky mengejek pleno yang berusaha menutup-nutupi kebijakan kepemimpinan Stalin-Bukharin: Para pekerja Shanghai dan (Wuhan) sudah pasti akan terkejut saat mengetahui bahwa peristiwa bulan April berkembang sesuai dengan derap garis sejarah yang telah dirancang oleh Kamrad Bukharin sebelumnya dalam melihat revolusi Cina. Bisakah seseorang membayangkan sebuah karikatur yang sangat jahat dan sikap sok ilmiah yang paling bodoh? Pelopor kaum proletar Cina dihancurkan oleh kaum borjuis “nasional” yang, padahal, sama-sama duduk bersama dalam kepemimpinan partai Kuomintang, mengsubordinasikan Partai Komunis dalam segala keputusan penting tentang displin organisasi partai bersama. Setelah perebutan kekuasaan oleh kontra-revolusi, yang mengagetkan kaum pekerja dan mayoritas kelas pekerja di seluruh dunia, bagaikan peristiwa yang tak terduga, resolusinya malah mengatakan: semuanya sesuai dengan garis yang terbaik yang diramalkan Bukharin (Trotsky, First Speech on the Chinese Question, ibid, hal. 222-223) Trotsky melanjutkannya dengan meng-eja-kan perbedaan esensial antara kebijakan Lenin terhadap kaum borjuis kolonial dengan garis Stalin-Bukharin: Mengatakan bahwa kaum borjuis harus memisahkan diri dari revolusi nasional adalah satu hal yang terpisah; namun mengatakan bahwa kaum borjuis harus mengambil kepemimpinan revolusi dan kepemimpinan atas kaum proletar, mengkhianati kelas pekerja kemudian melucuti senatanya, dan menghancurkannya hingga berdarah-darah dan mati, merupakan hal yang berbeda. Keseluruhan filosofi resolusi Bukharin, bisa ditemukan dalam identitas kedua ramalannya. Namun itu artinya ia merupakan orang yang tidak bisa membedakan antara perspektif Bolshevik dengan perspektif Menshevik… Karena memang ada kemungkinan pengkhianatan borjuis (yang memang selayaknya), kebijakan Bolshevik dalam revolusi borjuis diarahkan langsung untuk menciptakan sebuah organisasi proletar yang independen sesegera mungkin, yang bisa bersiaga sekuat mungkin atas pengkhianatan borjuis, yang dapat merangkul massa seluas-luasnya (dan sesegera mungkin) serta mempersenjatai mereka, guna membantu kebangkitan revolusioner massa petani dalam arti segalanya. Namun, kebijakan Menshevik sangatlah berbeda: walaupun sadar atas kemungkinan pengkhianatan kaum borjuis, namun Menshevik menunda saat-saat (yang paling menguntungkan) selama mungkin, dengan mengorbankan independensi organisasi proletar, menanamkan kepercayaan pada kaum pekerja atas peran progresif kaum borjuis, dan mengkhotbahinya tentang kebutuhan akan pengekangan diri secara politik... Ya, saat-saat pengkhianatan kaum borjuis mungkin bisa ditangguhkan. Tetapi penangguhan tersebut dimanfaatkan oleh kaum borjuis untuk melawan kaum proletar; Dengan demikian bisa merebut kepemimpinan atas kaum proletar, mengambil keuntungan social yang sangat besar, mempersenjatai pasukan yang loyal, mencegah dipersenjatainya kaum proletar, secara politik maupun militer dan, setelah semua itu diperolehnya, maka mereka akan mengorganisir pembantaian kontra-revolusi pada pertarungan pertama yang begitu serius... Untuk mencegah pengkhiantan kaum borjuis, yang akan menjadi menjadi perusak kaum proletar, teori blok empat kelas yang sangat menyedihkan itu seharusnya dicela sejak dari awal, yakni sebagai pengkhianatan teori dan politik terhadap revolusi Cina. Apakah hal tersebut dilakukan? Tidak, justru kebalikannya. (Trotsky, ibid, hal. 223-225) Resolusi Bukharin memaklumkan bahwa, sejak kudeta Chiang pada bulan April, 1927, revolusi Cina telah memasuki satu “tahap yang baru”—yang memiliki karakter “revolusi agraria, termasuk pengambilalihan dan nasionalisasi tanah.” Partai Komunis Cina diinstruksikan untuk “Menempatkan diri mereka di depan dan memimpin gerakan tersebut.” Bagaimana tepatnya hal tersebut bisa dikerjakan, disebutkan di dalam resolusi tersebut sebagai berikut: Pada tahap sekarang, hal tersebut hanya bisa dilakukan dengan mentransformasikan pemerintahan (Wuhan) sekarang ini ke dalam pusat politik revolusi pekerja dan petani, serta ke dalam organ revolusioner kediktatoran demokratik proletar dan petani. Perekrutan pekerja secara energik ke dalam partai (Komunis), baik di kota maupun di desa, juga rekrutmen buruh ke dalam Kuomintang… adalah tugas utama Partai Komunis Cina pada saat ini… Pemikiran tersebutlah yang melandasi ECCI secara tegas menolak tuntutan untuk keluar dari Kuomintang… Di Cina, Kuomintang merupakan suatu bentuk spesifik organisasi bangsa Cina di mana kaum proletar bekerjasama dengan borjuis-kecil dan kaum tani… ECCI tidak membenarkan pandangan bahwa yang merendahkan (menganggap remeh) pemerintahan Wuhan dan, dalam praktek, menolak kekuatan peran revolusioner-nya. Pemerintahan Wuhan dan pimpinan elemen kiri Kuomintang asal kelasnya mewakili bukan saja pekerja, petani, dan pengrajin, namun juga dari borjuis menengah. Oleh karena itu, elemen kiri Kuomintang dalam pemerintahan Wuhan bukanlah suatu kediktatoran proletar dan petani, tetapi sedang bergerak menuju kediktatoran semacam itu... Menurut pertimbangan ECCI, saat ini sangatlah tidak tepat untuk memajukan slogan tentang soviet perwakila buruh dan tani… memajukan slogan mengajukan slogan untuk dengan segera membentuk soviet perwakilan buruh, tani, dan tentara, pada perkembangan revolusi Cina sekarang ini, karena akan (tak terhindarkan lagi) mengakibatkan adanya kekuasaan ganda, sehingga salah satunya (yakni pemerintahan Wuhan) harus digulingkan, mengabaikan bentuk-bentuk organisasi layaknya Koumintang, dan langsung mengorganisir massa serta kekuasaan Negara menjadi rejim soviet di Cina sebagai bentuk Negara kediktatoran proletartiat. (Degras, ibid, hal. 385-390) Dengan demikian, strategi membentuk sebuah pemerintahan “blok empat kelas”, sebagai jalan menuju terbentuknya pemerintahan revolusioner buruh dan petani—sebagaimana diucapkan dengan sangat jelas oleh Martynov pada bulan April, 1927—secara formal dijadikan sebagai kebijakan Komintern yang resmi di Cina. Pembentukan soviet perwakilan pekerja, petani dan tentara secara tegas digariskan dengan landasan bahwa bahwa soviet tersebut akan menjadi organ revolusioner yang akan “menggulingkan pemerintahan Wuhan” demi menegakkan “kediktatoran proletar.” Namun, hal tersebut tetap tidak menjelaskan seperti apakah organ pemerintahan buruh dan tani di masa yang akan datang (kediktatoran demokratik revolusioner proletar dan petani). Tidakkah, pada tahun 1905, Lenin telah menyebutkan bawah organ “kediktatoran demokratik revolusioner proletar dan petani” lah yang dibutuhkan untuk mengemban revolusi demokratik borjuis. Dalam sebuah surat kepada politbiro CPSU, pada tanggal 16 April, Trotsky secara mengajukan pertanyaan yang mengganggu ini: Kawan Stalin saat ini menentang seruan yang mengajurkan agar pekerja Cina dan massa tertindas umumnya membentuk soviet… Ini yang menjadi alasan kawan Stalin: “Soviet merupakan organ yang sangat penting untuk merebut kekuasaan; seruan untuk membentuk soviet dapat juga diartikan bahwa perjuangan akan diarahkan menuju kediktatoran proletar, atau Cina Oktober (layaknya revolusi Oktober di Rusia).” Lantas, mengapa kita menggunakan soviet di tahun 1905? “Kita sedang berjuang melawan Tsarisme,” Jawab Stalin. “Tak ada perjuangan melawan Tsarisme di Cina. Karena kita tidak sedang bergerak kea rah revolusi Oktober (di Cina), maka selayaknyalah kita tidak perlu membentuk soviet.” …dalam menentang Tsar diperbolehkan membentuk soviet, namun belum diarahkan menuju kediktatoran proletar. Mengapa, lalu, apakah kemudian tidak diizinkan, dengan alat soviet tersebut, memerangi blok militer, komprador, tuan tanah dan imperialis asing di Cina, tanpa dengan segera membentuk sebuah kediktatoran proletarian? Mengapa? Jika seseorang berpikir, layaknya Stalin (dan masih berpikiran seperti itu?), bahwa penyatuan Cina harus dilakukan dengan dipimpin oleh borjuis Kuomintang padahal, bila menggunakan organisasi Kuomintang, membuat Partai Komunis mengsubordinasikan dirinya, menghilangkan independensi partai komunis yang paling mendasar (bahkan juga independensi persnya), dan memerintah teritori yang telah dikuasainya dengan cara birokrasi reaksioner—jika hal tersebut disebut sebagai revolusi nasional maka, tentu saja, tak ada tempat bagi sovyet… Stalin membayangkan bahwa pertama, borjuis, dengan dukungan massa yang (dengan sengaja) tidak diorganisir untuk revolusi (karena memang tidak diorganisir untuk revolusi, maka mereka tidak akan mulai mendukungnya) harus diarahkan untuk menuntaskan perjuangan melawan imperialisme, lalu kita akan memulai persiapan untuk mendirikan soviet. Gagasan tersebut salah sampai ke akarnya! Seluruh persoalannya adalah bagaimana perjuangan melawan imperialisme dan kaum reaksioner bisa dilancarkan di Cina, dan siapa yang akan memimpin perjuangan perjuangan tersebut? Adalah memungkinkan mendorongnya ke arah kediktatoran demokratik buruh-ani hanya dengan landasan perjuangan melawan imperialisme yang tak terpatahkan, yang bisa berlangsung lama dan berlarut-larut; bila hendak memiliki pengaruh terhadap buruh dan tani, maka landasannya hanya perjuangan melawan borjuis-nasional liberal; dan hanya dengan landasan organisasi massa buruh serta tani yang, bukan saja diarahkan untuk melawan imperialisme, tapi juga melawan borjuis Cina. Bentuk organisasi tersebut hanyalah Sovyet. Menyerukan dan memulai pengorganisiran sovyet sebenarnya juga berarti mulai memperkenalkan pada Cina elemen kekuasaan ganda. Keduanya perlu dan sehat. Apalagi hal tersebut akan membuka prospek lebih jauh menuju kediktatoran demokratik revolusioner proletar dan petani. Tanpa itu, semua pembicaraan tentang kediktatoran hanya sekadar obrolan tak berguna… Bahwa revolusi Cina pada tahap ini adalah revolusi demokrasi-nasional, yakni revolusi borjuis, adalah pelajaran dasar yang sudah sama-sama kita ketahui. Politik kita, bagaimanapun juga, tidak sekadar mengalir dari revolusi yang berlabel borjuis, tapi dari perkembangan nyata relasi kelas dalam revolusi tersebut. Berangkat dari konsep lama Menshevik, Kawan Martynov telah menyatakannya secara terang dan jelas: karena revolusi borjuisnya adalah anti-imperialis, maka satu bagian pun dari borjuis Cina, yang kepentingannya adalah menggulingkan imperialisme, tidak boleh beranjak dari revolusi (borjuis) tersebut. Chiang Kai-shek menjawab anjuran Martynov tersebut dengan melakukan perjanjian bersama imperialis dan menghancurkan kaum proletar Shanghai. Itulah tepatnya yang menyebabkan kawan Stalin tersesat, karena seluruh definisinya tentang revolusi berwatak non proletar dan borjuis yang mengarah pada kesimpulan bahwa, dengan demikian, sovyet tidak dibutuhkan. Dia ingin mengganti arah (actual) perjuangan kelas menjadi jadwal waktu bagi kelas-kelas. Namun jadwal tersebut diperoleh dengan cara (secara formal) mendefinisikan revolusi sebagai revolusi borjuis. Posisi tersebut samasekali salah, bertentangan dengan apa yang telah diajarkan Lenin. [Trotsky, On the Slogan of Soviets in China, ibid, hal. 149-156] Untuk menanggapi pertanyaan yang dimunculkan oleh oposisi CPSU, Stalin, pada pidatonya dalam pleno ECCI, Mei 1927, menyatakan: Karena Cina sedang menjalani revolusi agraria, karena kemenangan revolusi borjuis-demokratik, kemenangan kediktatoran revolusioner proletar dan petani, dan karena Nanking menjadi pusat dari kontra-revolusi nasional dan Wuhan menjadi pusat gerakan revolusioner di Cina, Kuomintang Wuhan harus didukung dan golongan Komunis harus berpartisipasi dalam Kuomintang tersebut dan pemerintah revolusionernya... Pada tahun 1905, bisa saja tidak pernah ada soviet di Russia kalau saja pada saat itu sudah ada organisasi massa yang besar di Russia (yang mirip dengan Kuomintang Kiri di Cina sekarang ini). Tetapi tidak ada organisasi semacam itu yang dapat tumbuh di Russia pada saat itu, karena tidak ada elemen penindasan nasional di kalangan pekerja dan petani Russia; Russia sendiri menindas negeri lain, dan organisasi seperti Kuomintang Kiri bisa tumbuh hanya ketika terdapat penindasan nasional oleh imperialis asing, yang akan menarik elemen-elemen revolusioner dari seluruh negeri secara bersama ke dalam satu organisasi yang besar. Seseorang pasti telah buta jika menyangkal peran Kuomintang Kiri sebagai sebuah organ perjuangan revolusioner, sebuah organ revolusi untuk melawan kaum feodal (yang masih bertahan) dan imperialisme di Cina. Tetapi apa runtunannya setelah ini? Runtunannya adalah bahwa Kuomintang Kiri (di Cina) harus menunjukkan peran yang kurang lebih sama dengan peran Sovyet (di Rusia) dalam revolusi borjuis-demokratik. [Stalin, The Revolution in China and the Tasks of the Comintern, ibid, hal. 707, 715]
|
KPRM-PRD's Note
Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.
A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.
Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?
Historically should note:A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.


