Direction
| STALINISME, MAOISME, DAN REVOLUSI CINA (III) |
|
| Written by Doug Lorimer |
|
There are no translations available. “Front Persatuan dari Dalam”Pada bulan Mei, 1922, konggres ke 2 Partai Komunis Cina bisa menerima kesimpulan tentang adanya kebutuhan untuk membangun sebuah front persatuan anti-imperialis dengan Kuomintang. Manifesto konggres menegaskan bahwa “tugas mendesak kaum proletar adalah melakukan aksi gabungan dengan partai demokratik guna membangun sebuah front persatuan revolusi demokratik demi perjuangan menggulingkan (tuan tanah) dan pengorganisasian pemerintahan demokratik yang sejati.” Pada bulan Agustus, 1922, Komite Sentral Partai Komunis Cina menyetujui, dengan berat hati, tawaran Maring bahwa komunis seharusnya masuk ke partai Kuomintang. Pendekatan Maring berdasarkan pada pengalaman lamanya saat berada di Indonesia, di mana kaum sosialis bekerja di dalam Sarekat Islam—sebuah organisasi nasionalis—pada awal tahun 1916. Pada tahun 1935, dia memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai orientasi tersebut: Bentuk yang longgar dari organisasi Sarekat Islam memungkinkan kawan-kawan kita di Indonesia, kaum sosialis-demotrat Jawa dan Melayu, untuk memperluas pengaruh mereka secara cepat. Bahkan, begitu luasnya sehingga serikat buruh dapat diorganir di ketentaraan, dan juga selama perang. Kalian akan dengan mudah bisa memahami bahwa usahaku untuk membangun semacam kerjasama dengan Kuomintang di Cina adalah berdasarkan langsung pada pengalaman positifku di Jawa [dikutip oleh Pierre Rousset, dalam The Chinese Revolution (notebooks for study and research, No.2, Amsterdam, 1987) hal. 10] Dalam sebuah laporannya untuk Komintern pada bulan Juli, 1922, Maring menjelaskan bahwa tujuan proposalnya adalah untuk menyiapkan sebuah alat agar Partai Komunis Cina—pada saat itu hanya memiliki 123 anggota—dapat tumbuh dari sebuah organisasi propaganda kecil menjadi sebuah partai dengan pengaruh yang substansial di antara massa. Laporannya pada tahun 1922 menyimpulkan: Aku sudah menyarankan pada kawan-kawan (Cina) kita agar mereka menghilangkan penghalang yang menyebabkan mereka bertentangan dengan Kuomintang, dan memulai aktifitas politik di dalam Kuomintang melalui cara yang dapat memudahkan akses kepada pekerja-pekerja di Selatan dan Utara. Sebagai kelompok kecil memang tak perlu menanggalkan independensinya; sebaliknya, kawan-kawan harus memutuskan bersama apa taktik yang akan mereka pergunakan di dalam Kuomintang (ibid, p. 10) Pada bulan Januari 1923 Komite Eksekutif Comintern (Comintern Excecutive Committee/ECCI) menyetujui sebuah resolusi tentang hubungan antara Partai Komunis Cina dan Kuomintang, yang secara efektif mendukung proposal Maring. Resolusi tersebut memberikan catatan bahwa “Satu-satunya kelompok nasionalis-revolusioner yang serius di Cina adalah Kuomintang, yang basisnya sebagian adalah borjuis liberal-demokrat dan borjuis kecil, dan sebagian lagi kaum terpelajar dan pekerja”, serta bahwa: 2. Karena gerakan pekerja independen di negeri ini masih lemah, dan karena tugas utama Cina adalah revolusi nasional melawan imperialis dan agen-agen feudal mereka di dalam negeri, dan karena, terlebih-lebih lagi, kelas pekerja benar-benar tertarik pada solusi terhadap masalah perjuangan nasional yang revolusioner, sementara itu masih belum cukup syaratnya untuk memisahkan diri sebagai sebuah kekuatan sosial yang mandiri sepenuhnya, maka ECCI memandang perlu adanya koordinasi antara aksi Kuomintang dengan aksi Partai Komunis Cina yang masih muda itu. 3. Konsekuensinya, dalam kondisi saat ini, adalah lebih bijaksana bagi para anggota Partai Komunis Cina untuk tetap bertahan di dalam Kuomintang [The Communist International 1919-1943, ed. By Jane Degras (London, 1960), vol. 2. hal. 6] Namun, resolusi tersebut memberikan tambahan syarat bahwa “Hal tersebut bukan berarti mengorbankan segi pokok pandangan politik Partai Komunis Cina”. Dengan demikian, ditetapkan bahwa: Partai harus mempertahankan kemandirian organisasinya dengan menggunakan aparat yang tersentralisir secara ketat. Tugas terpenting dan khusus Partai Komunis Cina adalah untuk mengorganisir dan mendidik massa pekerja, guna membangun serikat pekerja dan, dengan demikian, membangun basis bagi massa Partai Komunis yang kuat. Dalam kerja-kerja tersebut, Partai Komunis Cina harus menunjukkan warna yang berbeda dengan partai politik lainnya, guna menghindari konflik dengan gerakan nasionalist revolusioner (ibid, hal. 7) Terakhir, resolusi ECCI mewanti-wanti bahwa “Saat mendukung semua kampanye Kuomintang, melalui front nasionalis-revolusioner, agar menjalankan kebijakannya secara obyektif dan benar, Partai Komunis Cina seharusnya tidak melebur di dalamnya dan tidak menurunkan benderanya selama kampanye tersebut”. (ibid, p. 7) Pada bulan Mei, 1923, eksekutif Komintern memberikan arahan pada kongres ketiga Partai Komunis Cina, yakni dengan meberikan catatan bahwa: 1. Revolusi nasional di Cina… hanya akan berhasil jika gerakan diarahkan untuk menarik elemen mendasar dari populasi Cina, yakni petani… 2. Karena itu Partai Komunis, sebagai partai kelas pekerja, harus berusaha membangun persatuan antara buruh dan petani. Hal ini hanya akan terwujud apabila terus menerus melakukan propaganda menerus dan dengan sungguh-sungguh mewujudkan slogan revolusi agrarian… 3. Berangkat dari tuntutan dasar tersebut, sangatlah penting untuk mengajak seluruh massa petani miskin untuk berjuang melawan imperialis asing, dengan mengangkat isu mengenai penguasaan atas bea-cukai oleh modal asing, monopoli garam, permodalan, dan lain lain… 4. Hal tersebut dijalankan tanpa perlu dengan mengatakan bahwa kepemimpinan ada pada partai kelas pekerja…. Untuk memperkuat Partai Komunis, membuatnya menjadi partai massa proletar, untuk menyatukan kekuatan kelas pekerja dalam serikat-serikat pekerja—prinsip-prinsip itulah yang akan menyingkirkan keberatan massa atas kaum Komunis….. (ibid, pp. 25-26) Konggres ketiga Partai Komunis Cina, yang diselenggarakan pada bulan Juni, 1923 di Canton, menerima sebuah manifesto yang, sekalipun memberikan kepemimpinan revolusi nasional-demokratik kepada Kuomintang, sepakat dengan ECCI bahwa tugas dari Partai Komunis adalah memenangkan kepemimpinan atas buruh dan tani dalam perjuangan revolusi nasional. Konggres juga menyetujui proposal Maring mengenai suatu “Front Persatuan dari dalam “Kuomintang. Pada saat itu, Partai Komunis Cina memiliki 432 anggota. Dasar persetujuan dari kedua partai tersebut adalah menggabungkan kekuatan dalam perjuangan melawan para tuan tanah dan dominasi imperialis di Cina. Konggres Nasional I Kuomintang pada bulan Januari, 1924, secara resmi menyetujui aliansi internasional yang baru dengan Uni Sovyet, dan sebuah aliansi nasional dengan Partai Komunis Cina. Para anggota Partai Komunis Cina diterima sepenuhnya sebagai anggota Kuomintang. Pada saat itu, bidang propaganda Kuomintang, bidang tani dan departemen organisasionalnya sudah berada dalam genggaman kaum Komunis. 40 dari 200 delegasi dalam konggres Kuomintang adalah anggota Partai Komunis Cina. Konggres tersebut memilih 3 orang dari pihak komunis untuk menjadi anggota penuh komite sentral dan 6 orang lagi, termasuk Mao, menjadi wakilnya. Setelah lewat 2 tahun kebijakan “front persatuan dari dalam” dijalankan, kebijakan tersebut telah memberikan capaian besar bagi Partai Komunis Cina. Dari beberatus anggota pada awal berdirinya, yakni di tahun 1924, Partai Komunis Cina berkembang pesat sehingga memiliki 30.000 anggota pada tahun 1926. |
KPRM-PRD's Note
Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.
A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.
Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?
Historically should note:A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.



“Front Persatuan dari Dalam”