Home Direction Surat Solidaritas kepada SBTPI
Bookmark and Share
Direction
Surat Solidaritas kepada SBTPI PDF
Written by Johan Merdeka   
There are no translations available.

Bangun Persatuan Gerakan Rakyat Non Kooptasi - Non Kooperatif terhadap Sisa Orba, Militer, Reformis Gadungan!
Tinggalkan Serikat Buruh Gadungan - Bangun Serikat Buruh Mandiri, Progresif, Militan & Radikal

Salam Solidaritas!

Hingga hari ini sistem ekonomi kapitalisme semakin mengukuhkan taringnya dengan merobek serta menginjak-injak harkat serta martabat kaum buruh Indonesia, tanpa kenal ampun-sistem ekonomi kapitalisme menghabiskan serta menghancurkan tanpa ampun siapapun, bukan hanya kaum buruh saja yang merasakan penindasan serta penghisapannya-kaum tani, kaum miskin kota, mahasiswa, serta sektor rakyat lainnya begitu sangat merasakan penghisapan yang dilakukannya. dan penindasan ini di amini oleh rezim anti rakyat miskin, yang merupakan agen Imperialisme SBY - JK, SBY - Budiono.

Kaum buruh serta rakyat miskin lainnya masih saja dilemahkan dan dilumpuhkan dengan paket UU, TAP, Perda dsbnya, yang membuat rakyat miskin Indonesia tidak memiliki jaminan masa depan, dimana hak hidup untuk mendapatkan lapangan pekerjaan semakin terbatas, upah yang minim, jaminan sosial dalam bentuk pendidikan serta kesehatan hanya dijadikan ajang pejabat korup untuk melakukan korupsi.

Ancaman PHK, Upah Murah, kerja kontrak serta tidak dibebaskannya buruh berserikat merupakan ancaman demokrasi serta kebebasan bagi perjuangan kaum buruh.

Perlawananan serta perjuangan kaum buruh di Indonesia semakin meluas, terutama didaerah daerah, persoalan Normatif, Pemutusan Hubungan Kerja, upah Murah dsbnya yang membuat perlawanan kaum buruh meningkat,

Ribuan buruh di PHK sepihak, seperti yang terjadi di Medan (PT Tjipta Rimba Djaja, Novotel Soechi maupun PT WRP Buana Multi Corpora yang di PHK sebanyak 398 orang hingga saat ini masih terus melakukan perlawanan, dari aksi turun ke jalan, Pemblokiran Pabrik, aksi menginap di DPRD, Hingga represifitas serta penangkapan yang dialami merupakan pil pahit yang harus ditelan. Ini mensyaratkan kaum buruh Indonesia sudah berlawan dan akan terus berlawan hingga kapitalisme hancur dari muka bumi ini.

PHK yang terjadi juga mensaratkan lemahnya kaum buruh terutama yang selama ini dinaungi serikat buruh kuning maupun serikat buruh gadungan.Tidak pernah ada pendidikan-pendidikan politik diberikan kepada kaum buruh sehingga kaum buruh selalu tersudutkan, tidak mampu berlawan.

Buruh hanya tahu menjalankan kewajibannya sebagai tenaga kerja. Namun ketika terjadinya perselisihan antara buruh dengan Pengusaha, hampir di semua serikat tingkat pabrik selalu buang badan tidak mau tahu dan melakukan kompromi dengan pengusaha yang merugikan kaum buruh demi kepentingan Pribadi/individu.

Sudah saatnya, kita seluruh kaum buruh Indonesia melawan serta membangun serikat buruh progresif,.karena bagi kita hanya dengan serikat buruh Progresif yang selalu memberikan penyadaran arti pentingnya berlawan dan berpolitik yang mengabdi untuk kepentingan sejati kaum buruh, yaitu politik turun ke jalan serta aksi-aksi massa untuk menuntut secara ekonomi maupun politik.Melakukan aksi-aksi pemogokan serta pendudukan pabrik, maupun melakukan pemblokiran-pemblokiran terhadap akses Vital Kapitalisme (Bandara, Pelabuhan, Perbatasan2, Pasar, dsbnya). Karena hanya dengan aksi massa yang terpimpin serta dipimpin klas pekerja yang revolusioner dan kaum miskin tertindas lainnya yang progresif maka perubahan sejati bisa kita wujudkan.

Sekian & terima Kasih

Front Rakyat Anti Penindasan Sumatera Utara
(FRAPSU)
FNPBI PRM SUMUT, PBB (Persatuan Buruh Berjuang), PPRM SUMUT, JNPM SUMUT, LMND PRM SUMUT, SMI Cab. Medan, KPRM PRD SUMUT, STN PRM SUMUT,

JOHAN MERDEKA
Sekretaris PPRM SUMUT

* Surat ini dibacakan pada pertemuan Halal bi Halal yang diselenggarakan oleh SBTPI tgl 11 Oktober 2009.

 

 

KPRM-PRD's Note

Origin of the Economy, Politics, and Culture Crisis of Indonesia.

A. 350 years Colonialism : Inheritance colonialism in Indonesia.
B. Stronghold defeat "socialism a la Indonesia" (citadel of mass mobilization-farm labor) in 1965 (which sought a way to build a democracy that Indonesia does not depend on the imperialist) to enable (i) of the New Order regime, and (ii) the capitalist economy that is not industrialized; and especially (iii) demolition achievements achievements-national democratic revolution in Indonesia during 1900-1965 at the top of the citadel of socialist defeat in 1965 (the people must learn the history of New Order). In other words, is a victory (a) the political elite to the dictatorship of democracy and mass mobilization (b) neo-colonialism.
C. Neo-liberalism: The failure of political regime and economic elites, neo-colonial country and defend the people from the globalization of neo-liberalism-which is the most malignant form of the new neo-colonialism, capitalism and the crisis of international significance increase profits from the investment-investment, so that require increased extortion.

Who fought furiously, who fought a half-hearted, and who their enemies?

Historically should note:
A. Social strength (strength class), which moves from period to period. Role of youth, a young intellectual, poor traders, laborers and farmers in the resistance against colonialism until 1949; the development of the movement "socialism a la Indonesia" the period 1949-65, and in resistance to the New Order in the phase.
B. History of who organize and fight for the idea (a) the mass action and (b) socialism a la Indonesia in all this period, which should also describe the figures and ideas, idea, and also a growing political organization.
C. The situation now.
Historically must described:
A. The strength of social (class) which is capable of and concerned with (proletarian and students, with the special position of the mass majority, that is, mass semi-proletarian and bourgeois small-impoverished and oppressed the poor, the city / town and village Marhaen)
B. Who is the enemy of the people in the country and why: the remnants of New Order, the military, reformis fake, fake nationalist, all of which stand at the top of the class interests of capitalists in the country with all the conflict-conflict. Who musah abroad: imperialistic, imperialist pemrintah-government, international financial institutions, MNC companies and international banks
C. Who strategic partners in and outside the country, both in class and organization. In explaining aspects of the organization in the country must be accompanied with a thorough explanation, sensitive, humble, but to the scientific situation fragementasi pioneering. Strategic partners prospective partners is unity.
D. Who tactical ally: this changed from time to time, can force the social (class or a part of a class), can be individuals or organizations.